Written by Riri Nikita, Siti Aisyah, Syahladiyah, & Chaesa
Apa yang terjadi di antara Amerika Serikat (AS) dan Israel telah lama menjadi sorotan dalam dinamika politik internasional, sebab seperti terdapat sesuatu yang spesial di antara keduanya. Tidak ada suatu negara dengan negara lain yang memiliki hubungan seperti yang dimiliki oleh AS dan Israel. Hal tersebut dikarenakan keduanya seringkali menyokong satu sama lain sehingga tindakan mereka terkadang melampaui berbagai aturan yang termuat dalam organisasi-organisasi internasional maupun sebuah rezim internasional. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa hubungan keduanya bukan hanya sekedar kemitraan biasa, melainkan lebih dalam dari sebuah aliansi strategis. Hal tersebutlah yang dapat memunculkan pertanyaan seperti mengapa sebuah negara kuat seperti AS begitu dekat dan loyal terhadap Israel dan apakah kedekatan antara keduanya benar-benar murni hanya karena kesamaan nilai demokrasi atau malah karena ada kepentingan terselubung yang lebih penting. Oleh sebab itu, perlu adanya peninjauan bagaimana awal mula dari hubungan keduanya, apa penyebab yang mendasari hubungan tersebut, serta dampak global apa yang sekiranya dapat ditimbulkan dari kedekatan AS dan Israel.
Hubungan AS dengan Israel saat ini ternyata bukanlah suatu hal baru. Faktanya, hubungan diplomasi kedua negara ini sudah terjalin kuat sejak lama. Pada 14 Mei 1948 tepat saat Israel mencetuskan kemerdekaannya, AS yang kala itu dipimpin oleh Presiden Harry S. Truman menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Israel. Meski menuai pro dan kontra dari banyak pihak, Truman mengabaikan respons tersebut, bahkan penasihatnya, George C. Marshall dan James Forrestal menentang imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina, dua solusi negara, hingga pengakuan Israel sebagai suatu negara berdaulat. Truman berpegang teguh pada prinsipnya “If two national entities claim the same piece of land, to prevent conflict and war, partition into two states was the most logical solution.” (Gilboa, 2023).
Perlakuan spesial Truman terhadap Israel merupakan suatu permulaan, sebab sejauh ini AS sebagai negara superpower sering kali turut aktif menjadi mediator terhadap beberapa perang yang melibatkan Israel. Seperti halnya Perang 6 Hari pada Agustus 1970, Rogers sukses menuntun proses mediasi antara Mesir dan Israel untuk menghentikan konfliknya di masa yang akan datang, membantu tercapainya perjanjian antara Yordania dan Israel pada Oktober 1994, serta percobaan mediasi damai antara Israel dan Palestina sejak tahun 2000 hingga berkali-kali pergantian masa kepresidenan AS. selain itu, Sejak perang dingin dimulai, Truman menganggap Israel sebagai negara sekutu yang ideal untuk menghadapi ekspansi Uni Soviet di Timur Tengah. Maka dari itu, seiring berjalannya waktu mulai dari pemerintah AS hingga warganya menjadi memiliki ikatan yang kuat dengan Israel.
Lebih jauh lagi, dukungan yang diberikan AS terhadap Israel tidak tanggung-tanggung. AS tercatat telah mengeluarkan lebih dari $159 miliar untuk Israel, yang sebagian besar ditujukan ke aspek militer bersenjata. Berdasarkan (Masters & Merrow, 2025), AS telah menyetujui nota kesepahaman untuk memberikan tunjangan kepada Israel sebesar $3.8 miliar per tahunnya hingga tahun 2028, termasuk $500 juta per tahunnya untuk pertahanan militer berbasis rudal. Meski demikian, dukungan yang diberikan AS terhadap militer Israel bukan hanya dukungan sepihak, sebab bantuan ini didefinisikan sebagai investasi jangka panjang dalam bidang pertahanan. AS memasok berbagai kepentingan senjata bagi Israel, sementara Israel memasok kepentingan intelijen yang dibutuhkan AS. Tak berhenti disitu, Israel dan AS selama ini turut menjalin keamanan siber dan proliferasi nuklir sebagai bentuk kerjasama bilateral kedua negara.
Hubungan keduanya dapat dilatarbelakangi oleh keadaan domestik di AS sendiri. Menurut Louis Fawcett dalam Ramadhan (2017), menyatakan bahwa ada enam elemen dalam negeri yang sangat berpengaruh dalam proses perumusan kebijakan luar negeri AS yaitu The White House, The Executive Branch, The Legislative Branch, Political Parties, Opinion Makers dan The Lobbies. Dari keenam elemen tersebut, menurut Gabriel Almond memaparkan bahwa The Lobbies merupakan kelompok kepentingan yang berusaha untuk memperjuangkan kepentingannya melalui lobi kepada pemerintah (Ramadhan, 2017). Kelompok lobi yang sangat berperan dalam proses pembentukan kebijakan luar negeri AS terutama yang berfokus ke Timur Tengah adalah mereka yang pro-Israel (Mearsheimer, 2008). kelompok lobi tersebut adalah The American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), Anti-Defamation League (ADL) dan The
Zionist Organization of America (ZOA). AIPAC menjadi organisasi yang paling berpengaruh dan kuat dalam mendorong hubungan erat antara AS dan Israel. organisasi ini memiliki jaringan yang luas dan kemampuan untuk memobilisasi sumber daya, termasuk dana dan dukungan pemilih, untuk mendukung politisi yang sejalan dengan agenda pro-Israel. AIPAC secara eksplisit tidak berpihak pada partai politik Demokrat atau Republik di AS, karena mereka fokus pada identifikasi dan dukungan terhadap kandidat yang paling berkomitmen untuk mendukung agenda Israel. Hal ini menjamin bahwa terlepas dari siapa yang memegang kendali di Gedung Putih atau Kongres, dukungan AS terhadap Israel akan tetap berjalan.
Selain itu, juga disebabkan dengan adanya kelompok evangelis yang turut mempengaruhi kebijakan luar negeri AS, terutama pada masa pemerintahan Trump. Menurut Pahlevi et al. (2022), yang menggunakan pendekatan teori liberalisme ideasional mengatakan bahwa kelompok tersebut dapat dikategorikan sebagai aktor domestik yang mempengaruhi kebijakan luar negeri AS yang pro-israel. Teori liberal ideasional sendiri berasumsi bahwa kebijakan luar negeri sebuah negara mencerminkan preferensi domestik yang berasal dari nilai-nilai sosial dan identitas kelompok masyarakat. Kelompok ini meyakini bahwa kembalinya orang yahudi ke Israel dapat mempercepat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Untuk mempunyai pengaruh yang lebih kuat dalam menyalurkan preferensi tersebut, kelompok evangelis membangun organisasi Christians United for Israel (CUFI) dan Evangelical Advisory Board di lingkaran pemerintahan Trump. Pada satu sisi, kelompok tersebut sangat penting secara elektoral untuk Trump, karena 80% dari mereka tercatat memilihnya di 2016 dan 81% dari mereka memilihnya lagi di 2020. Maka dari itu, Trump mengakomodasi preferensi kelompok evangelis melalui kebijakan luar negeri yang condong ke Israel seperti pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem, mengakui Yerusalem dan pemukiman ilegal di tepi barat sebagai wilayah dari Israel, dan semakin menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Hal tersebut juga disampaikan oleh John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt, dalam artikel yang berjudul “Is It Love or The Lobby? Explaining America’s Special Relationship with Israel,” (2009). Mereka berpendapat bahwa hubungan khusus di antara keduanya didorong oleh pengaruh dari kelompok kepentingan domestik atau the lobby dari AS. Akan tetapi, kelompok domestik ini terdiri tidak hanya terkhusus oleh white evangelical christian, tetapi lebih umum dengan diisi oleh orang-orang yahudi dan non-yahudi. Selain itu, dukungan terang-terangan AS terhadap Israel juga berakar pada wacana Judeo-Kristiani (Tal, 2023). Wacana tersebut bukanlah doktrin teologis, melainkan konstruksi sosial yang digunakan untuk menegaskan nilai-nilai demokrasi, kebebasan, serta konstitusi amerika yang dianggap berasal dari Alkitab. Oleh sebab itu, dalam menegaskan hubungan khusus dengan Israel, para pemimpin AS terdahulu seperti Ronald Reagan, Jimmy Carter, dan John F. Kennedy menggunakan istilah Judeo-Kristiani, sehingga melihat dirinya sebagai kelanjutan dari bangsa Israel kuno. Dinamika tersebut memperkuat bahwa hubungan keduanya bukan hanya sekedar aliansi strategis, tapi juga dalam ikatan spiritual dan moral.
Hubungan antara AS dan Israel memberikan impact terhadap negara lain, salah satunya adalah Palestina. Perang yang sudah berjalan selama 75 tahun ini dibantu oleh pihak eksternal yaitu Amerika Serikat. Pada perang Israel dengan Hamas di 7 oktober 2023, AS telah mengirim $16.3 miliar untuk bantuan militer ke Israel. Bantuan tersebut disahkan dalam tiga undang-undang yaitu apropriasi tambahan pada April 2024 yang menyediakan $8,7 miliar dolar dan alokasi anggaran pada tahun 2024 serta 2025 yang masing-masing menyediakan $3,8 miliar per tahun sesuai dengan MoU (Memorandum of Understanding). Dari total tersebut, $6,7 miliar dolar dialokasikan untuk sistem pertahanan rudal (Masters & Merrow, 2025). Bantuan yang diberikan dapat dikatakan memperburuk keadaan di medan perang. Hal tersebut dikarenakan, menurut UNICEF (2025), lebih dari 50.000 anak meninggal dunia dan luka parah di perbatasan Gaza sejak oktober 2023.
Selain itu, dampak dari kedekatan keduanya juga dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah, salah satunya adalah Iran. hal tersebut dikarenakan, As turut ikut campur tangan dalam konflik yang terjadi antara Iran dengan Israel. Dalam BBC News Indonesia. (2025), wakil menteri luar negeri Iran yang bernama Saeed Khatibzadeh, berkata bahwa konflik Israel dengan Iran “bukanlah perangnya Amerika” dan menyebutkan keterlibatan AS dapat menambah “kekacauan kompleks yang tidak terhindarkan”. Tidak hanya itu, AS dan negara-negara sekutu seperti Arab Saudi membantu counter serangan rudal dan drone yang dilakukan Iran kepada Israel. AS juga menempatkan baterai Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Israel, bersama dengan sekitar 100 tentara AS untuk mengoperasikannya (Zanotti, 2024).
Lebih jauh lagi, dampak dari kedekatan AS dan Israel bagi indonesia yang hanya memiliki hubungan non diplomatik dengan Israel, adalah adanya tekanan yang diberikan oleh AS terhadap Indonesia untuk membangun hubungan diplomatik formal dengan Israel. Seperti deklarasi Abraham Accords yang merupakan beberapa perjanjian untuk menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara bagian Arab. selain itu, dapat dikatakan bahwa AS akan berusaha memperkuat hubungannya dengan Indonesia baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan militer apabila Indonesia memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Israel.
Dengan demikian, hubungan antara AS dan Israel terbukti melampaui sekadar aliansi strategis biasa, yang di mana berakar dari pengakuan dini AS pada tahun 1948 oleh Presiden Truman lalu berkembang menjadi ikatan yang mendalam serta loyal. Kedekatan ini didorong oleh berbagai faktor, tidak hanya kepentingan geopolitik di Timur Tengah dan kerja sama militer-intelijen yang saling menguntungkan yang ditandai dengan bantuan finansial AS mencapai miliaran dolar, tetapi juga dipengaruhi secara kuat oleh aktor domestik di AS. Kelompok lobi pro-Israel seperti AIPAC dan komunitas Kristen evangelis seperti CUFI memainkan peran krusial dalam membentuk dan mempertahankan kebijakan luar negeri AS yang pro-Israel, yang di mana juga sejalan dengan wacana Judeo-Kristiani yang mengikat kedua negara secara spiritual dan moral. Aliansi tidak biasa yang ditandai dengan pemberian dukungan tanpa batas telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan, terutama memperburuk konflik di Palestina dengan dukungan militer AS kepada Israel, meningkatkan ketegangan regional dengan negara seperti Iran, bahkan memunculkan tekanan terhadap negara yang hanya memiliki hubungan non-diplomatik dengan Israel seperti Indonesia, untuk melakukan normalisasi hubungan.
Referensi
BBC News Indonesia. (2025). AS gabung dengan Israel serang Iran akan ciptakan ‘malapetaka’ – Bagaimana posisi UK?. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvge015nxjeo
Gilboa, E. (2023). US-Israel relations at 75. Israel Affairs, 29(3), 473–491. https://doi.org/10.1080/13537121.2023.2206210
Masters, J., & Merrow, W. (2025, October 7). U.S. aid to Israel in four charts. Council on Foreign Relations. https://www.cfr.org/article/us-aid-israel-four-charts#chapter-title-0-1
Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M. (2009). Is it love or the lobby? Explaining America’s special relationship with Israel. Security Studies, 18(1), 58-78.
Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M. (2008). The Israel lobby and U.S. foreign policy. Farrar, Straus and Giroux.
Pahlevi, F. R., Rosyidin, M., & Hanura, M. (2022). Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Sebagai Manifestasi Politik Domestik: Pengaruh Kelompok Evangelis Terhadap Perdamaian Palestina-Israel. Journal of International Relations Diponegoro, 8(4), 808-821.
Ramadhan, I. (2017). Lobi Israel dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat ke Timur Tengah. Intermestic: Journal of International Studies, 1(2), 144–165. https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.24198/intermestic.v1n2.5
Tal, D. (2023). The Judeo-Christian Tradition and the US-Israel Special Relationship. Diplomacy & Statecraft, 34(4), 755-776.
UNICEF. (2025). ‘Unimaginable horrors’: More than 50,000 children reportedly killed or injured in the Gaza Strip. https://www.unicef.org/press-releases/unimaginable-horrors-more-50000-children-reported ly-killed-or-injured-gaza-strip
Zanotti, J. M. (2024). Israel: Major Issues and U.S. Relations. Congressional Research Service. https://sgp.fas.org/crs/mideast/R44245.pdf








Tinggalkan Balasan