Jl. Rs. Fatmawati, Pondok Labu – South Jakarta

fpciupnvj@upnvj.ac.id

@fpciupnvj

Illiberal Allies: Bagaimana Hungaria dan Turki Menantang Tata Demokratis Barat

Ditulis oleh Nadindra Raffi P. D., Giselle Misca, & Chyndikia Nadi

Paradoks Aliansi Barat di Era Illiberalism

Pasca-Perang Dingin, tatanan internasional yang dipimpin negara-negara Barat dibangun atas  keyakinan bahwa demokrasi, pasar bebas, dan hak asasi manusia dapat menciptakan  stabilitas serta perdamaian global. Optimisme terhadap dominasi demokrasi liberal sebagai  model politik universal kini mulai dipertanyakan. Dua dekade terakhir menunjukkan  paradoks aliansi Barat yang selama ini menjadi penjaga nilai-nilai liberal justru menghadapi  kemunculan anggota yang mengikis prinsip-prinsip tersebut dari dalam. Dalam konteks  tersebut, muncul fenomena illiberalism, yakni bentuk pemerintahan yang menolak nilai-nilai  liberal tanpa sepenuhnya meninggalkan demokrasi elektoral. Menurut Marlene Laruelle  (2022), illiberalism merupakan ideologi pasca-liberal yang muncul sebagai reaksi terhadap  dominasi liberalisme di bidang politik, ekonomi, dan budaya. Ia bukan sekadar  otoritarianisme, melainkan menawarkan alternatif ideologis yang menantang klaim universal  nilai-nilai liberal dan berupaya merevisi tatanan global dari dalam. 

Fenomena tersebut melahirkan istilah illiberal allies sekutu-sekutu Barat yang tetap berada  dalam institusi seperti Uni Eropa dan NATO, tetapi menunjukkan kecenderungan otoritarian  dan anti-liberal. Contohnya tampak pada Hungaria di bawah Viktor Orbán dan Turki di  bawah Recep Tayyip Erdoğan. Hungaria mengalami democratic backsliding sejak bergabung  dengan Uni Eropa, sedangkan Turki memperkuat kekuasaan eksekutif dan menekan oposisi  meski tetap menjadi anggota penting NATO. Keduanya menantang tatanan liberal melalui  dua cara, secara internal, dengan melemahkan institusi demokrasi dan kebebasan sipil serta  secara eksternal, dengan kebijakan luar negeri yang kerap bertentangan dengan posisi  kolektif Barat. Kondisi ini menciptakan dilema bagi Barat antara mempertahankan sekutu  strategis dan menegakkan nilai-nilmenganalisis bagaimana Hungaria dan Turki sebagai  illiberal allies menantang tatanan demokratis Barat.

Illiberal Democracy dalam Tatanan Dunia Multipolar

Konsep illiberal democracy menggambarkan kondisi di mana pemimpin memperoleh  kekuasaan melalui mekanisme elektoral demokratis, tetapi secara sistematis melemahkan  institusi-institusi penegak demokrasi seperti peradilan independen, media bebas, dan oposisi  politik. Dalam konteks ini, demokrasi tidak lagi diiringi oleh nilai-nilai liberal seperti  penghormatan terhadap hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, dan pluralisme politik.  Pemimpin illiberal sering menggunakan legitimasi elektoral untuk memperkuat kekuasaan  pribadi dan menjustifikasi kebijakan yang membatasi kebebasan sipil. 

Fenomena ini menghadirkan tantangan signifikan bagi liberal order yang sejak berakhirnya  Perang Dingin menjadi pondasi utama tatanan internasional. Sistem tersebut berlandaskan  pada keyakinan bahwa kombinasi antara demokrasi liberal dan ekonomi pasar bebas mampu  menciptakan stabilitas serta perdamaian global (Ikenberry, 2018). Namun, munculnya  illiberal alliesseperti Hungaria dan Turki memperlihatkan paradoks yang mendalam, negara-negara yang tergabung dalam institusi liberal Barat justru melemahkan nilai-nilai dasar yang  menopang sistem itu dari dalam (Laruelle, 2022). Di Hungaria, Viktor Orbán secara eksplisit  mempromosikan konsep “negara illiberal” sembari memperkuat kekuasaan eksekutif melalui  pengendalian media dan lembaga peradilan (Bogaards, 2018). Pola serupa tampak di Turki  di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, yang menegaskan kekuasaan presiden,  menekan oposisi, dan memanfaatkan retorika nasionalisme serta agama untuk  mempertahankan legitimasi politiknya. 

Hungaria dan Turki menempatkan Barat dalam dilema antara menjaga komitmen terhadap  nilai-nilai liberal atau mempertahankan hubungan strategis dengan sekutu penting secara  geopolitik. Pertimbangan keamanan dan isu migrasi sering kali membuat Barat  mengesampingkan idealismenya demi kepentingan praktis (Krekó & Enyedi, 2018), yang  pada akhirnya melemahkan kredibilitas tatanan liberal itu sendiri. Dalam konteks global yang  kian multipolar, tren illiberal democracy mencerminkan pergeseran ideologis di mana  semakin banyak negara menolak dominasi model demokrasi liberal Barat dan mencari  alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi domestik. Sementara itu, kekuatan non-liberal seperti Tiongkok dan Rusia turut memperkuat narasi bahwa stabilitas politik dan kemajuan  ekonomi dapat dicapai tanpa bergantung pada nilai-nilai liberal (Beeson, 2022). Dengan  demikian, kemunculan illiberal allies seperti Hungaria dan Turki tidak sekadar menjadi  penyimpangan internal, tetapi juga menandakan perubahan menuju tatanan global yang lebih  plural secara ideologis. 

HUNGARIA DI BAWAH VIKTOR ORBÁN 

Sejak tahun 2010, pemerintahan Viktor Orbán menandai pergeseran politik signifikan  menuju “illiberal democracy”, istilah yang ia kukuhkan sendiri dalam pidatonya di Băile  Tușnad pada tahun 2014. Dalam pidato tersebut, Orbán menegaskan bahwa “the Hungarian  nation is not a simple sum of individuals, but a community that must be organized,  strengthened, and developed”, sebuah pernyataan yang secara eksplisit menolak  individualisme liberal Barat (Bogaards, 2018). Pemerintahannya menjustifikasi sistem  politik berbasis nilai-nilai Kristen dan kedaulatan nasional dengan narasi bahwa liberalisme  Eropa telah gagal melindungi masyarakat dari globalisasi, sekularisasi, dan krisis imigrasi. 

Secara kebijakan, Hungaria memperkenalkan Undang-Undang Media 2011 yang membatasi  kebebasan pers, di mana Freedom House (2024) menilai skor kebebasan media negara  tersebut hanya 44/100, turun drastis dari 88/100 pada tahun 2010. Reformasi konstitusi tahun  2012 turut memperkuat dominasi eksekutif dengan memperpanjang masa jabatan hakim  Mahkamah Konstitusi hingga 12 tahun dan mengubah komposisi lembaga peradilan untuk  melemahkan pengawasan independen (Enyedi, 2020). Meskipun demikian, Hungaria tetap  memanfaatkan keanggotaannya di Uni Eropa untuk mendapatkan dana struktural sebesar  €5,8 miliar pada tahun 2023 (European Commission, 2024), sekaligus menentang kebijakan  migrasi kolektif dan sanksi terhadap Rusia yang dianggap bertentangan dengan kepentingan  nasionalnya. 

Kebijakan anti-imigran yang semakin keras sejak krisis pengungsi 2015 terlihat dari  pembangunan pagar perbatasan sepanjang 175 km di perbatasan Serbia (EU Migration Data  Portal, 2023) menunjukan konsistensi populisme nasionalis Orbán dalam menegaskan perlindungan kedaulatan budaya. Dalam perspektif konstruktivisme, fenomena ini  mencerminkan rekonstruksi identitas nasional Hungaria dari anggota komunitas liberal  Eropa menjadi negara berdaulat dengan nilai-nilai konservatif nasional. Identitas tersebut  dikonstruksi melalui narasi politik dan simbolisme nasional sebagai bentuk resistensi  terhadap tekanan normatif Uni Eropa. Dengan demikian, kasus Hungaria memperlihatkan  bahwa norma liberal Barat tidak bersifat universal, melainkan bersaing dengan konstruksi  identitas domestik yang lebih mengakar secara historis dan kultural (Wiener, 2018). 

TURKI DI BAWAH ERDOĞAN 

Jika Hungaria memanifestasikan illiberalism melalui nasionalisme etno-Kristen dan  resistensi terhadap hegemoni liberal Uni Eropa, maka Turki di bawah Recep Tayyip Erdoğan  memperlihatkan pola illiberal yang berakar pada Islam politik, populisme nasional, dan  konsolidasi kekuasaan eksekutif. Kedua kasus ini memperlihatkan dinamika serupa yaitu  pelemahan institusi demokrasi dilakukan bukan melalui kudeta atau revolusi, melainkan  lewat mekanisme elektoral yang sah secara formal, namun diarahkan untuk  mengkonsolidasikan kekuasaan personal. 

Di bawah kepemimpinan Erdoğan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) sejak 2002,  Turki mengalami transisi gradual menuju competitive authoritarianism, di mana kompetisi  elektoral tetap ada tetapi berlangsung dalam arena yang tidak setara. Menurut Economist  Intelligence Unit (EIU, 2024), indeks demokrasi Turki anjlok dari 5,73 pada 2006 menjadi  4,35 pada 2023, menandakan pergeseran dari flawed democracy menuju hybrid regime.  Kudeta gagal pada Juli 2016 menjadi momen penting dalam transformasi tersebut, di mana  pemerintah menahan lebih dari 150.000 pegawai publik dan akademisi serta menutup lebih  dari 180 media independen (Human Rights Watch, 2023). Kondisi ini memperlihatkan  bagaimana krisis keamanan digunakan sebagai justifikasi untuk memperluas kontrol negara  atas masyarakat sipil dan menghapus oposisi politik. Setelah amandemen konstitusi 2017  yang mengubah sistem parlementer menjadi presidensial, Erdoğan semakin menegaskan  retorika nasionalisme Islam dan konservatisme moral sebagai basis legitimasi politik. Dari  sisi ekonomi, kebijakan pembangunan masif seperti proyek New Istanbul Airport senilai US$12 miliar dan strategi substitusi impor diandalkan untuk menegaskan kemandirian  nasional (World Bank, 2024). Namun, data OECD (2024) menunjukkan nilai tukar lira  mengalami depresiasi hingga -78% terhadap dolar AS antara 2018–2024, menandakan  ketidakstabilan struktural akibat sentralisasi kekuasaan dan lemahnya independensi bank  sentral. 

Secara geopolitik, Turki menunjukkan ambivalensi strategis yang menggambarkan dilema  illiberal allies dimana tetap menjadi anggota aktif NATO dan mitra penting bagi Barat,  namun juga menjalin kedekatan dengan Rusia melalui pembelian sistem rudal S-400 pada  2019. Langkah ini menimbulkan ketegangan serius dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa,  yang bahkan menangguhkan partisipasi Turki dalam program jet tempur F-35. Dalam  perspektif liberalisme institusional, kondisi ini memperlihatkan batas-batas teori liberal:  partisipasi dalam institusi multilateral dan integrasi ekonomi tidak serta merta memperkuat  komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi (Moravcsik, 2020). Sebaliknya, dalam logika  illiberalism, keterlibatan Turki di institusi Barat justru berfungsi sebagai alat negosiasi dan  leverage politik untuk memperluas ruang otonomi nasional dan memperkuat legitimasi  domestik Erdoğan. 

ILLIBERAL ALLIES DI ERA DUNIA MULTIPOLAR 

Dalam era multipolar, Hungaria dan Turki secara pragmatis memperluas ruang otonomi  strategis dengan memanfaatkan persaingan kekuatan besar untuk diversifikasi mitra dan opsi  kebijakan luar negeri (Kutlay, 2021; Laruelle, 2022). Mereka tetap mempertahankan  keanggotaan di institusi Barat untuk akses ekonomi, legitimasi politik, dan jaminan  keamanan, tetapi menggunakan status itu sebagai leverage negosiasi bukan sebagai alat  konvergensi nilai normatif (Kutlay, 2021; Krekó & Enyedi, 2018). 

Kedua pemerintahan menerapkan strategi domestik yang menegaskan kedaulatan dan  identitas nasional sehingga menjustifikasi langkah-langkah yang melemahkan institusi  demokrasi di dalam negeri sambil memperkuat posisi tawar di luar negeri (Bogaards, 2018;  Freedom House, 2024). Hungaria terus mengakses dana dan program Uni Eropa meskipun menentang kebijakan kolektif Uni Eropa, sedangkan Turki mengambil keputusan strategis  seperti pembelian sistem pertahanan non-Barat untuk mengurangi ketergantungan teknologis  dan memberi ruang manuver diplomatik (European Commission, 2023; Kutlay, 2021).  

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh normatif Barat melemah ketika aliansi menjadi  berbasis kepentingan praktis bukan kesamaan nilai, dan memerlukan sintesis teoretis antara  realisme, liberalisme, dan konstruktivisme untuk memahami interaksi antara struktur  internasional, insentif institusional, dan narasi identitas domestik (Levitsky & Way, 2010;  Laruelle, 2022). Implikasi kebijakannya adalah bahwa respons Barat harus menggabungkan  instrumen strategis dan upaya normatif yang lebih cermat karena isolasi murni berisiko  mendorong realignments yang memperkuat multipolaritas. 

REORIENTASI NILAI DAN KEPENTINGAN DALAM ALIANSI BARAT 

Illiberal allies seperti Hungaria dan Turki menandai tantangan serius bagi tatanan demokrasi  liberal Barat karena mereka membuktikan bahwa keanggotaan dalam institusi internasional  tidak otomatis menghasilkan konvergensi nilai. Praktik-praktik domestik yang menegaskan  kedaulatan dan identitas nasional dipadukan dengan kebijakan luar negeri pragmatis  memungkinkan kedua negara memaksimalkan otonomi strategis dalam lingkungan  multipolar tanpa harus meninggalkan manfaat ekonomi dan keamanan dari keanggotaan di  UE dan NATO (Kutlay and Öniş, 2021; Bogaards, 2018). Fenomena ini mengurangi  efektivitas pengaruh normatif Barat dan mengaburkan batas antara kesetiaan ideologis dan  kepentingan praktis dalam aliansi modern (Ikenberry, 2018). 

Respons yang efektif dari aktor Barat harus lebih halus daripada sekadar tekanan normatif  atau sanksi yang bersifat represif. Kombinasi insentif kebijakan yang terukur dan upaya  rekonstruksi legitimasi norma penting untuk mengurangi insentif rezim illiberal dalam  memilih realignments strategis yang menguntungkan aktor non-Barat (Levitsky and Way,  2010; European Commission, 2023). Secara teoritis, pemahaman penuh terhadap fenomena  ini memerlukan sintesis pendekatan realis yang menyorot kepentingan, liberal yang menyorot peran institusi, dan konstruktivis yang menekankan perubahan identitas domestik  sebagai pendorong kebijakan luar negeri (Laruelle, 2022; Ikenberry, 2018). 

Akhirnya, studi tentang illiberal allies harus dilanjutkan dengan penelitian yang  menghubungkan narasi identitas dan mekanisme institusional sehingga kebijakan luar negeri  yang tampak pragmatis dapat dianalisis sebagai produk interaksi antara tekanan struktural  internasional dan perubahan normatif domestik. Dengan demikian, analisis ini bukan hanya  relevan untuk memahami hubungan Hungaria dan Turki dengan Barat, tetapi juga penting  untuk merumuskan strategi kebijakan yang menjaga stabilitas internasional tanpa  melepaskan tujuan nilai-nilai demokrasi. (Kutlay and Öniş, 2021; Laruelle, 2022; Ikenberry,  2018).

Referensi

Bogaards, M. (2018). De-democratization in Hungary: diffusely defective democracy.  Democratization, 25(8), 1481-1499. 

Economist Intelligence Unit. (2024). Democracy Index 2023: Age of hybrid regimes.  London: The Economist Group. 

Enyedi, Z. (2020). Democratic backsliding and academic freedom in Hungary. Perspectives  on Politics, 18(1), 106–116. 

European Commission (2023). Country Report – Hungary. Link / PDF: https://economy finance.ec.europa.eu/system/files/2023-06/ip241_en.pdf.  

European Commission. (2024). Cohesion policy funding in Hungary: Annual report 2023.  Brussels: European Union Publications. 

Freedom House (2024) Hungary: Freedom in the World 2024. Link:  https://freedomhouse.org/country/hungary/freedom-world/2024.  

Halmai, G. (2011). An illiberal democracy in the middle of Europe: Constitutional changes  in Hungary after 2010. EUI Law Department.  https://www.eui.eu/Documents/DepartmentsCentres/Law/Professors/Halmai/Illibera l-Democracy-in-Hungary.pdf 

Human Rights Watch. (2023). Turkey: Human rights under pressure after 2016 coup attempt.  New York: HRW Report Series. 

Ikenberry, G. J. (2018). The end of liberal international order?. International affairs, 94(1),  7-23. 

Krekó, P., & Enyedi, Z. (2018). Explaining Eastern Europe: Orbán’s laboratory of  illiberalism. Journal of Democracy, 29(3), 39-51.

Kutlay, M. and Öniş, Z. (2021) Turkish foreign policy in a post-western order: strategic  autonomy or new forms of dependence? International Affairs, 97(4), pp. 1085–1104.  

Laruelle, M. (2022). Illiberalism: A conceptual introduction. East European Politics, 38(2),  303-327. 

Levitsky, S. and Way, L. A. (2010) Competitive Authoritarianism: Hybrid Regimes after the  Cold War. Cambridge: Cambridge University Press.  

Moravcsik, A. (2020). Liberal theories of international relations: A reassessment.  

OECD. (2024). Economic Survey of Turkey 2024. Paris: Organisation for Economic Co operation and Development. 

The Economist Intelligence Unit (2024) Democracy Index 2023: Age of Conflict. Link:  https://www.eiu.com/n/campaigns/democracy-index-2023/ and PDF:  https://d1qqtien6gys07.cloudfront.net/wp-content/uploads/2024/02/Democracy Index-2023-Final-report-11-15.pdf 

World Bank. (2024). Turkey macroeconomic update: Spring 2024. Washington, DC: World  Bank Group.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts