Ditulis oleh Fajar Maliki
Konflik Palestina-Israel tidak pernah lepas dari perhatian dunia, namun terdapat eskalasi terbaru yang menghadirkan dinamika baru dalam politik global. Pada Agustus 2025, Benyamin Netanyahu dan Kabinet Keamanan Israel telah menyetujui rencana untuk mengambil alih kendali penuh atas Kota Gaza dengan dalih untuk menghancurkan Hamas dan mengamankan Israel dari ancaman. Rencana ini melibatkan paksa lebih dari satu juta warga sipil Gaza dalam kurun waktu kurang dari dua bulan (The Guardian, 2025). Langkah tersebut tidak hanya menimbulkan ketakutan besar di kalangan warga Palestina, tetapi juga mengundang kecaman keras dari PBB dan sejumlah negara, termasuk Jerman yang menangguhkan ekspor militer ke Israel (Reuters, 2025).
Sementara itu, opini masyarakat Amerika Serikat mengalami pergeseran. Dukungan publik Amerika Serikat terhadap Israel menurun drastis: hanya 32% yang mendukung gerakan operasi militer Israel terhadap Gaza sejak Juli 2025 lalu, dibandingkan 50% pada tahun 2024 (Gallup, 2025).

(Survei berdasarkan data Gallup, 2025)
Mayoritas publik Amerika kini tidak lagi mendukung gerakan operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Israel di Gaza dengan persentase penolakan sebesar 60% pada Juli 2025. Hal ini menandai suatu perubahan besar dalam opini publik AS yang terkenal akan Pro-Israel berpotensi menggoyahkan konsistensi dukungan diplomatik, politik, militer Washington terhadap Tel Aviv. Di Eropa, terjadi demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan aspirasi Pro-Palestina, memperlihatkan jurang antara kebijakan pemerintah dengan aspirasi masyarakat. Situasi ini menimbulkan dilema serius bagi Barat, apakah tetap mempertahankan loyalitas strategis pada Israel atau mengakomodasi tekanan politik global untuk berpihak pada nilai kemanusiaan. Dilema ini dilatarbelakangi oleh historis hubungan Palestina-Israel dan peran Barat dalam menopang keberlangsungan konflik.
Dukungan barat terhadap Israel berakar dari sejarah panjang yang kelam semasa Perang Dunia II, kepentingan moral, politik, dan kemanusiaan dipertanyakan pada zaman itu. Semasa Perang Dunia II, dunia menyaksikan tragedi Holokaus yang menewaskan enam juta orang yahudi. Trauma sejarah ini melahirkan konsensus di kalangan negara-negara Barat untuk mendukung penuh atas berdirinya sebuah negara Yahudi yang diyakini sebagai “rumah” permanen dan keselamatan bagi para kaum Yahudi yang selamat dari genosida. Amerika Serikat menjadi aktor utama yang memberikan legitimasi politik kepada Israel pada tahun 1948. Narasi keselamatan Yahudi tidak hanya berfungsi sebagai dasar moral dan kemanusiaan, melainkan strategi geopolitik negara Barat dalam membuat benteng kokoh di Timur Tengah dengan menjadikan negara Israel sebagai sekutu besar bagi Barat. Dengan demikian, hubungan negara Barat dan Israel dibentuk pada dasar sejarah, moral, dan kepentingan geopolitik.
Pembentukan negara Israel menimbulkan tragedi bagi rakyat Palestina. Ratusan ribu orang terusir dari tanah mereka sendiri pada peristiwa Nakba 1948, sejak saat itu Palestina menjadi salah satu simbol penderitaan global akibat kolonialisme modern. Sejak tahun 1967, Gaza khususnya berada dalam tekanan geopolitik, militer, blokade ekonomi, akses bantuan kemanusiaan, kesehatan, pendidikan seringkali dibatasi dan terhambat oleh kebijakan keamanan Israel yang diperkuat oleh diplomatik dan militer negara yang mendukungnya. Situasi ini menjadikan Palestina korban politik global yang berlapis, mereka bukan hanya korban konflik dengan Israel, tetapi juga korban rivalitas geopolitik yang lebih luas, negara-negara besar memanfaatkan isu Palestina untuk agenda mereka masing-masing. Di satu sisi, negara-negara Eropa seringkali bersuara normatif tanpa menghentikan pelanggaran HAM di Gaza. Di satu sisi, Amerika Serikat konsisten dan secara terbuka mendukung dan mengirimkan bantuan terhadap Israel dalam operasi militer. Ketidakmampuan pihak Barat untuk bersikap konsisten pada prinsip dan taktik memperlihat dilema politik global yang kini belum terpecahkan. Sikap tidak konsisten negara Barat menciptakan kesempatan bagi Israel untuk leluasa melancarkan berbagai operasi militer di Gaza sehingga menyebabkan kontradiksi bagi negara-negara yang mendukungnya mulai tergoyahkan.
Berdasarkan data YouGov, dukungan terhadap Israel di Eropa mencapai skor terendah. Hanya 13-21% masyarakat Eropa yang menganggap Israel telah melakukan sesuatu yang benar dengan melakukan penyerangan terhadap Gaza, semenjak Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2025, masyarakat Eropa banyak yang menentang kebijakan Israel, Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, Denmark, dan Spanyol memiliki persentase 63-70% memandang Israel secara negatif (YouGov, 2025).

(Ilustrasi gambar berdasarkan The Guardian dan YouGov, 2025)
Kebijakan pemerintah Jerman juga mulai berubah. Eskalasi kekerasan di Gaza dan tingginya jumlah korban sipil Palestina tiap harinya, kini mendorong kritikan tajam dari pejabat tinggi Jerman atas operasi militer Israel yang lebih terbuka. Kanselir Fredrich Merz tetap menegaskan kepentingan hubungan baik dengan Israel. Akan tetapi, keterlibatan bantuan militer terhadap Israel mengalami tekanan domestik yang semakin kuat, kritik publik terhadap Israel menekan perubahan kebijakan luar negeri dengan Israel untuk mengurangi keterlibatan militer (The Reuters, 2025).
Opini publik semakin kritis terhadap kebijakan Pro-Israel, di Amerika Serikat generasi muda, kelompok progresif, dan aktivis HAM mendesak perubahan kebijakan luar negeri (The Week, 2025). Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyetujui rencana rencana evakuasi paksa di Gaza pada 10 Agustus 2025 lalu. Selain itu, masyarakat Tel Aviv itu sendiri, menentang kebijakan yang ditetapkan Netanyahu, banyak masyarakat Israel yang beropini, seharusnya Israel fokus pada pembebasan sandera yang ditangkap oleh pasukan Hamas. Kebijakan yang dibentuk Netanyahu akan memperburuk hubungan antara dua pihak dan dapat membahayakan sandera. Rencana evakuasi paksa di Gaza berpotensi memunculkan krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern. Lebih dari satu juta jiwa terancam kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan pokok manusia. Namun, di sisi lain, dukungan moral dan politik global semakin besar (The Guardian, 2025).
Kebijakan Netanyahu membawa konsekuensi yang serius bagi Israel, baik di ranah domestik maupun internasional. separatisme di dalam politik Israel semakin nyata. Lebih dari 200.000 masyarakat Israel turun di jalan Tel Aviv untuk menjalankan demonstran besar-besaran. Keputusan kebijakan yang diambil, dianggap tidak mementingkan keamanan dan keselamatan masyarakat mereka sendiri, dalam negeri maupun luar negeri. Tekanan internasional semakin memperlemah Israel dalam posisi diplomatik dan citra ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya. Hubungan Israel dengan dunia semakin rumit setelah serangkaian operasi militer yang kontroversial. Sejak 2024, Israel diduga melakukan serangan terhadap Suriah dan Lebanon, dan melakukan penyerangan terhadap Iran, serta kebijakan kontroversial okupasi Gaza yang menyebabkan perspektif Eropa menjadi tidak selalu pro-Israel.
Sejumlah negara Barat kini mulai terbuka dan berpihak kepada Palestina. Spanyol, India, dan Norwegia resmi mengakui adanya negara Palestina sejak pertengahan 2024 lalu. Sebuah langkah diplomatik bersejarah yang diikuti pemerintah Luksemburg dan Belgia. Kini Jerman, yang telah mendukung operasi okupasi militer Israel selama bertahun-tahun karena sejarah kelam holokaus, mulai menggeser posisinya dengan mengurangi ekspor militer sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang melanggar HAM. Perubahan ini menunjukkan, dukungan terhadap Palestina sudah mencapai pusat kekuatan Barat dan tingkat simpati serta dukungan telah menyentuh hati seluruh dunia untuk mendukung kebebasan dan kemerdekaan Palestina. Disusul dengan Prancis yang menyatakan pengakuan dan mendukung negara Palestina pada 25 Juli 2025 dan akan menyatakan aksi dukungan penuh ke Majelis Umum PBB pada bulan September mendatang, pernyataan ini dinyatakan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, walaupun banyak menerima kecaman terutama oleh Presiden AS Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ia meyakini bahwa perdamaian itu ada dan kemanusiaan akan selalu ada.
Dengan demikian, Israel tidak hanya kehilangan simpati publik dari negara-negara besar yang mendukungnya dan dukungan dari masyarakatnya. Tetapi juga berisiko kehilangan dukungan politik formal dari negara-negara yang selama ini setia mendukungnya.
Israel kini menghadapi krisis legitimasi yang serius di mata dunia. Rencana okupasi Gaza dan kebijakan evakuasi paksa, memperburuk hubungan Israel dengan sekutu, negara yang mendukungnya dan masyarakatnya. Operasi militer yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar membuat simpati global beralih kepada Palestina, sementara Israel semakin dipandang sebagai aktor agresif yang mengabaikan prinsip kemanusiaan. Dengan perubahan ini, Israel berisiko semakin terisolasi di panggung internasional. Sebaliknya, Palestina semakin banyak mendapatkan pengakuan dan dukungan di dunia serta legitimasi diplomatik dan simpati global yang semakin kuat. Dinamika ini menandai titik balik penting dalam konflik Israel-Palestina, di mana dukungan Barat menjadi titik bergesernya dunia kembali prinsip kemanusiaan. Israel perlahan menggali kuburannya sendiri dengan terancam turun dari panggung internasional.
Referensi
Brenan, M. (2025). 32% in U.S. Back Israel’s Military Action in Gaza, a New Low. Gallup. Diakses pada 18 Agustus 2025 dari https://news.gallup.com/poll/692948/u.s.-back-israel-military-action-gaza-new-low.aspx
The Week. (2025). Israel: Losing the American public. Diakses pada 14 Agustus 2025 dari https://theweek.com/politics/israel-losing-american-public
Escritt, T. & Rinke, A. (2025). Gaza war testing Germany’s long unconditional commitment to Israel. Reuters. Diakses pada 12 Agustus 2025 dari https://www.reuters.com/world/americas/gaza-war-testing-germanys-long-unconditional-commitment-israel-2025-05-28/
The Guardian. (2025). Thousands in Tel Aviv protest against Netanyahu’s plan to escalate Gaza war. Diakses pada 13 Agustus 2025 dari https://www.theguardian.com/world/2025/aug/09/thousands-in-tel-aviv-protest-against-netanyahus-plan-to-escalate-gaza-war
Amichay, R. & Bayer, L. (2025). Israelis stage nationwide protests to demand end to Gaza war and release of hostages. Reuters. Diakses pada 19 Agustus 2025 dari https://www.reuters.com/world/middle-east/israelis-stage-nationwide-protests-demand-end-gaza-war-release-hostages-2025-08-17/
The Guardian. (2025). Public support for Israel in western Europe at lowest ever recorded by YouGov. Diakses pada 15 Agustus 2025 dari https://www.theguardian.com/world/2025/jun/03/public-support-for-israel-in-western-europe-lowest-ever-recorded-yougov?utm_source=chatgpt.com
Huffpost. (2025). Más de 200.000 personas exigen a Netanyahu que anteponga la seguridad de los rehenes a la ocupación de Gaza. Diakses pada 19 Agustus 2025 dari https://www.huffingtonpost.es/global/mas-200000-personas-exigen-netanyahu-anteponga-seguridad-rehenes-ocupacion-gaza.html
TvOneNews. (2025). Prancis Bakal Akui Palestina, Macron Ledek Trump: Tidak Penting! | OneNews Update. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=BZ5MOEqyXwQ
Putri, S., R. (2025). Kronologi & Penjelasan Awal Sejarah Konflik Israel-Palestina. CNBC Indonesia. Diakses pada 15 Agustus 2025 dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20231125141124-4-491989/kronologi-penjelasan-awal-sejarah-konflik-israel-palestina
The Guardian. (2024). Ireland, Spain and Norway to recognise Palestinian state. Diakses pada tanggal 12 Agustus 2025 dari https://www.theguardian.com/world/article/2024/may/22/palestinian-state-recognition-ireland-spain-recognise-palestine
Smith, M. (2025). Net favourability towards Israel reaches new lows in key Western European countries. YouGov. Diakses pada tanggal 13 Agustus 2025 dari https://yougov.co.uk/international/articles/52279-net-favourability-towards-israel-reaches-new-lows-in-key-western-european-countries
Tinggalkan Balasan