Jl. Rs. Fatmawati, Pondok Labu – South Jakarta

fpciupnvj@upnvj.ac.id

@fpciupnvj

“Nicki Minaj and Affective Polarization in Digital Public Sphere”

Ditulis oleh Viviandra Kaylan Ash Shaffi & Jason Nehemia Wijaya

Dalam era digital yang ditandai oleh polarisasi politik yang tajam dan dominasi media sosial, figur publik tidak lagi sekadar berperan sebagai penghibur. Mereka telah menjadi aktor simbolik dalam ruang politik yang sangat terbuka dan reaktif. Setiap pernyataan yang mereka keluarkan berpotensi melampaui batas industri hiburan dan masuk ke dalam perdebatan ideologis yang lebih luas. Fenomena ini semakin terlihat ketika seorang selebritas dengan pengaruh global secara terang – terangan menunjukkan pendapat dan cara mereka berpolitik yang dapat memicu respons masyarakat yang cepat dan sering kali terpolarisasi di media sosial. Salah satu contoh yang sempat ramai diperbincangkan banyak orang, yakni kontroversi yang melibatkan rapper ternama Nicki Minaj pada periode 2025-2026.

Dalam kerangka public sphere yang dikemukakan oleh Jürgen Habermas, ruang publik dipahami sebagai wadah deliberatif di mana masyarakat membentuk opini publik melalui diskusi rasional dan pertukaran pendapat secara terbuka (Habermas, 1989). Namun dalam konteks kontemporer, struktur ruang publik mengalami perubahan yang signifikan. Media sosial dan cepatnya penyebaran informasi menyebabkan diskusi publik menjadi semakin bebas dan sulit untuk dikendalikan. Dalam kondisi inilah perdebatan tidak selalu didasarkan pada argumen rasional, tetapi sering dipengaruhi oleh simbol, identitas kelompok, dan emosi.

Kasus kontroversi yang melibatkan Nicki Minaj pada periode 2025-2026 menjadi contoh bagaimana seorang artis global dapat berubah menjadi pusat perdebatan politik nasional di Amerika Serikat. Kontroversi ini mulai mendapat perhatian luas setelah Nicki Minaj secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Donald Trump dan menyebut dirinya sebagai Trump’s “number one fan,” sebagaimana dilaporkan oleh BBC News (2025). Reaksi publik muncul hampir seketika karena banyak pihak melihat pernyataan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap agenda politik yang kontroversial. Industri hiburan arus utama di Amerika Serikat sering diasosiasikan dengan nilai-nilai progresif sehingga dukungan Nicki terhadap Trump dianggap menyimpang dari arus dominan.

Situasi menjadi semakin kompleks ketika BBC juga melaporkan bahwa Nicki Minaj mendukung klaim Donald Trump mengenai dugaan penganiayaan terhadap umat Kristen di Nigeria (BBC News, 2025). Klaim tersebut diperdebatkan karena konflik di Nigeria melibatkan faktor yang jauh lebih kompleks, termasuk dimensi etnis, ekonomi, dan ekstremisme bersenjata. Dengan memperkuat narasi tersebut, Nicki tidak hanya masuk ke dalam politik domestik Amerika, tetapi juga menyentuh isu geopolitik internasional. Di sinilah muncul kritik mengenai tanggung jawab selebritas dalam menyampaikan isu global. Dalam era komunikasi transnasional, figur publik dengan jutaan pengikut memiliki kapasitas membentuk persepsi publik secara cepat. Pernyataan yang kurang bernuansa dapat menyederhanakan konflik yang sebenarnya kompleks. Kritik ini tidak hanya diarahkan pada isi pernyataannya, tetapi juga pada dampak potensial dari amplifikasi narasi tersebut.

Kontroversi tersebut semakin meningkat ketika Nicki Minaj menghadiri acara Turning Point USA, sebuah organisasi konservatif yang dikenal sebagai wadah aktivisme politik sayap kanan di Amerika Serikat. Kehadirannya dalam forum tersebut memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk pemimpin agama di Atlanta yang mengaku kecewa terhadap partisipasinya (CBS News, 2025). Kehadiran Nicki Minaj dalam acara tersebut memperkuat pandangan publik bahwa ia tidak hanya menyampaikan opini politik di media sosial, tetapi juga mulai terlibat secara langsung dalam ruang politik yang lebih formal. 

Untuk memahami dinamika tersebut, penting melihat posisi Nicki Minaj bukan hanya sebagai musisi, tetapi sebagai figur budaya dengan kapital simbolik yang signifikan. Sebagai salah satu rapper perempuan paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir, ia memiliki basis penggemar global yang besar dan loyal. Ia bukan sekadar artis, melainkan ikon budaya yang merepresentasikan keberhasilan perempuan kulit hitam dalam industri hiburan arus utama.

Esai ini berargumen bahwa dalam public sphere digital yang terfragmentasi, budaya pop dan pernyataan selebritas berfungsi sebagai simbol ideologis yang memperkuat polarisasi afektif, memediasi kontestasi identitas, serta mengubah figur hiburan menjadi aktor politik simbolik dalam dinamika demokrasi kontemporer. 

Dari perspektif Habermas (The Structural Transformation of the Public Sphere, 1989) dan konsep Politicization of Culture, kontroversi Nicki Minaj menunjukkan bagaimana ruang publik digital berfungsi sebagai arena di mana opini, loyalitas fandom, dan simbolisme identitas saling diperebutkan. Budaya pop tidak lagi sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana politisasi simbolik, di mana musik, pesona selebritas, dan basis penggemar digunakan untuk menegosiasikan ideologi dan membentuk wacana politik. Fenomena ini memperlihatkan bahwa selebritas dapat mempengaruhi opini publik, memperkuat identitas kelompok, dan bahkan menantang norma sosial, sehingga budaya populer menjadi medan politik yang aktif dan strategis di masyarakat yang terfragmentasi.

Liputan ABC7 Chicago (2026) menegaskan bahwa dalam acara tersebut Nicki secara eksplisit menyatakan dukungan terhadap Donald Trump dan JD Vance. Kehadirannya mengejutkan sebagian audiens konservatif, menandakan bahwa langkah ini memiliki nilai simbolik yang kuat. Dengan tampil secara fisik di panggung politik, Nicki melangkah lebih jauh dari sekadar komentar daring. Ia menjadi bagian dari representasi formal dalam ruang politik konservatif.

Kontroversi mencapai puncaknya ketika Forbes melaporkan bahwa Nicki Minaj melakukan apa yang disebut sebagai “full-on MAGA rant,” menggunakan istilah polemik seperti “Demoncrats” dan melontarkan kritik terhadap Jay-Z serta Trevor Noah dalam konteks Grammy Awards (Murray, 2026). Retorika ini menunjukkan pergeseran dari sekadar dukungan politik menjadi ekspresi ideologis yang terbuka dan konfrontatif sehingga memunculkan konflik simbolik dalam industri hiburan. Kritik terhadap figur-figur arus utama mempertegas jarak antara Nicki dan sebagian besar lingkungan budaya populer yang cenderung kritis terhadap Trump, mencerminkan fragmentasi internal dunia hiburan yang sebelumnya diasumsikan homogen secara politik. 

Namun, respons terhadap Nicki tidak sepenuhnya berisi kritik negatif. Dalam wawancara yang dilaporkan USA Today (2026), ia menyatakan bahwa “bullying” terhadap Donald Trump memicunya untuk lebih vokal terhadap politik, memposisikannya sebagai pembela kebebasan berekspresi dan penentang budaya penghakiman massal. Perdebatan kemudian bergeser dari sekadar dukungan terhadap Trump menjadi wacana tentang hak untuk memiliki pandangan berbeda tanpa menghadapi pengucilan sosial sehingga isu cancel culture menjadi relevan. 

Artikel opini The Guardian (2026) menyoroti loyalitas penggemar Nicki, yang dikenal sebagai Barbz yang tetap membelanya meskipun banyak kritik, menunjukkan bahwa fandom modern tidak selalu ditentukan oleh kesamaan pandangan politik, melainkan oleh ikatan emosional, sejarah dukungan, dan identifikasi personal terhadap sosok figur artis. Bagi sebagian Barbz, pembelaan terhadap Nicki juga dipandang sebagai perlawanan bias media dan tekanan sosial, bukan sekadar dukungan terhadap Trump. 

Kasus kontroversi Nicki Minaj menunjukkan bagaimana budaya populer sangat bisa menjadi wadah berpolitik yang kompleks, bukan sekadar hiburan. Polarisasi yang muncul tidak hanya soal perbedaan pandangan politik, tapi juga bersifat afektif: orang-orang merasa terikat secara emosional pada kelompok politiknya sendiri dan kadang memiliki antipati kuat terhadap lawan (affective polarization) (Iyengar et al., 2020). Dalam konteks ini, cancel culture bekerja secara ambivalen; kritik dan seruan boikot di media sosial bisa menekan reputasi, tetapi di sisi lain justru memperkuat solidaritas penggemar inti. Fenomena ini terlihat pada para penggemar Nicki, yang dikenal sebagai Barbz, yang tetap mendukungnya meskipun banyak kritik yang muncul kepadanya. Selain itu, media sosial mempercepat penyebaran opini publik dan membuat kontroversi menyebar dengan cepat sehingga selebritas seperti Nicki bisa membentuk pandangan publik dalam hitungan hari bahkan jam (Loader, Vromen, & Xenos, 2020; Highfield & Leaver, 2022). Dengan begitu, konflik ini bukan hanya tentang politik atau musik, tetapi juga tentang identitas, loyalitas penggemar, dan perdebatan tentang hak individu untuk bersuara dalam ruang publik digital (Koul & Rose, 2021). 

Dengan demikian, kasus Nicki Minaj memperlihatkan bahwa budaya populer telah menjadi arena politisasi simbolik di era digital. Pernyataan selebritas dapat memicu polarisasi afektif, memperkuat loyalitas penggemar, dan membentuk opini publik dengan cepat melalui media sosial. Loyalitas Barbz terhadap Nicki memperlihatkan bagaimana identitas, ikatan emosional, dan sejarah dukungan memediasi perdebatan politik dalam ruang publik digital. Cancel culture bekerja secara ambivalen; di satu sisi menekan reputasi, tetapi di sisi lain memperkuat solidaritas kelompok pendukung inti. Fenomena ini menegaskan bahwa figur hiburan seperti Nicki Minaj bukan sekadar musisi, tetapi juga aktor politik simbolik yang menggunakan musik, persona, dan fandom untuk menegosiasikan ideologi, membentuk wacana, dan menantang norma sosial dalam masyarakat yang terfragmentasi. 

Referensi

ABC7 Chicago. (2026, Februari 3). Nicki Minaj surprises conservatives with support for Trump, Vance at Turning Point event. https://abc7chicago.com/post/nicki-minaj-surprises-republicans-support-trump-vance-calling-assassin-turning-point-event-erika-kirk/18307243/

BBC News. (2025a, Desember 3). Nicki Minaj calls herself Trump’s ‘number one fan’ and shows off gold card visa. https://www.bbc.com/news/articles/cp87l604nx8o

BBC News. (2025, Desember 5). Nicki Minaj supports contested Trump claim Christians being persecuted in Nigeria. https://www.bbc.com/news/articles/cd7r1y30ljqo

CBS News. (2025, Desember 6). Backlash grows after Nicki Minaj’s Turning Point USA appearance; Bernice King responds. https://www.cbsnews.com/atlanta/news/atlanta-faith-leaders-respond-as-nicki-minaj-faces-backlash-over-turning-point-usa-appearance/

Forbes. (2026, Februari 2). Murray, C. Nicki Minaj’s full-on MAGA rant: Slams ‘Demoncrats,’ Jay-Z and Trevor Noah’s Grammy dig. https://www.forbes.com/sites/conormurray/2026/02/02/nicki-minajs-full-on-maga-rant-slams-demoncrats-jay-z-and-trevor-noahs-grammy-dig/

The Guardian. (2026, Februari 6). Nicki Minaj has lurched to the right. Why are her fans defending her? https://www.theguardian.com/commentisfree/2026/feb/06/nicki-minaj-maga-era-barbz-defend

USA Today. (2026, Februari 3). Nicki Minaj says ‘bullying’ of Trump propelled her into politics. https://www.usatoday.com/story/entertainment/celebrities/2026/02/03/nicki-minaj-trump-support-katie-miller-podcast/88490057007/

Habermas, J. (1989). The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society. MIT Press.

Iyengar, S., Lelkes, Y., Levendusky, M., Malhotra, N., & Westwood, S. (2020). The origins and consequences of affective polarization in the United States. Annual Review of Political Science, 23, 101–119. https://doi.org/10.1146/annurev-polisci-050718-032628

Loader, B. D., Vromen, A., & Xenos, M. A. (2020). The networked young citizen: Social media, political participation and civic engagement. Information, Communication & Society, 23(5), 701–719. https://doi.org/10.1080/1369118X.2018.1494297

Highfield, T., & Leaver, T. (2022). Social media and everyday politics. Polity Press.

Koul, R., & Rose, J. (2021). Digital youth, political participation and the public sphere. Palgrave Macmillan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts