Jl. Rs. Fatmawati, Pondok Labu – South Jakarta

fpciupnvj@upnvj.ac.id

@fpciupnvj

International Women’s Day 2025: Accelerate Action, Accelerate Women!

Ditulis oleh Freesia Aryunia

Setiap tanggal 8 Maret, International Women’s Day (IWD) diperingati sebagai momen untuk merayakan semua perempuan sekaligus mengadvokasi kesetaraan gender. Tahun 2025 menandai kesempatan lain untuk merenungkan kemajuan yang telah dicapai dalam perjalanan menuju kesetaraan gender dan tantangan yang masih dihadapi. Tema untuk International Women’s Day 2025 adalah Accelerate Action, yang menekankan pentingnya langkah cepat dan tegas untuk mencapai kesetaraan gender. Menurut World Economic Forum, jika kemajuan terus berjalan dengan kecepatan saat ini, dunia baru akan mencapai kesetaraan gender penuh pada tahun 2158, terhitung kurang lebih lima generasi dari sekarang. Kebutuhan mendesak untuk menutup kesenjangan gender kini semakin jelas, dan peringatan International Women’s Day 2025 mengingatkan kita bahwa meskipun kemajuan telah tercapai, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Salah satu alasan yang paling mendesak untuk mempercepat aksi dalam kesetaraan gender adalah hambatan sistemik yang terus menerus dihadapi perempuan di seluruh dunia. Hambatan-hambatan ini muncul dalam berbagai bentuk, termasuk kesenjangan upah, kurangnya perwakilan di posisi kepemimpinan, dan akses yang tidak setara terhadap pendidikan serta peluang ekonomi. Ketidaksetaraan ini bukan hanya hasil dari pilihan pribadi atau keadaan individu, tetapi tertanam dalam struktur sosial yang telah lama menempatkan perempuan pada posisi yang tidak ‘menguntungkan’. Di tempat kerja, perempuan masih menerima bayaran yang jauh lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ketimpangan ini bahkan lebih nyata bagi women of colour (wanita yang bukan kulit putih). Selain itu, hambatan yang tidak terlihat terus membatasi kenaikan perempuan ke posisi kepemimpinan teratas, baik dalam bisnis maupun politik. Pendidikan, yang sering dipandang sebagai pengubah besar, masih sulit diakses oleh banyak perempuan di negara berkembang karena faktor budaya, ekonomi, dan politik.

Meskipun sudah ada kemajuan di banyak bidang, tantangan sistemik masih menghalangi partisipasi penuh perempuan dalam semua aspek kehidupan. Hambatan-hambatan ini semakin diperburuk oleh bias gender yang sudah mendarah daging yang memengaruhi kehidupan pribadi dan profesional perempuan. Bias ini tidak hanya muncul dalam bentuk diskriminasi yang terlihat jelas tetapi juga dalam bentuk bias yang lebih halus, seperti penilaian yang lebih rendah terhadap kemampuan perempuan untuk memimpin atau membuat keputusan penting. Hal ini sering kali terjadi tanpa disadari, baik di tempat kerja maupun di lingkungan sosial. Fakta sederhana bahwa banyak perempuan masih menghadapi diskriminasi atau pelecehan di tempat kerja merupakan pengingat nyata akan perlunya perubahan sistemik. Pelaporan kasus pelecehan seringkali terbentur dengan kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar atau ketakutan akan dampak negatif terhadap karir mereka. Masih banyak perusahaan yang belum sepenuhnya menerapkan kebijakan perlindungan yang efektif untuk perempuan, sehingga menciptakan suasana yang tidak aman bagi mereka untuk bekerja tanpa merasa terancam atau terdiskriminasi. Tanpa aksi cepat untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, target kesetaraan gender global akan terus terhalang, dan generasi mendatang akan terus menghadapi tantangan yang sama. Untuk mencapai kesetaraan gender, dibutuhkan perubahan kebijakan yang lebih nyata, serta upaya bersama dari semua pihak—baik pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat—untuk menciptakan sistem yang adil dan inklusif bagi perempuan.

Di era modern saat ini, dunia telah membuat kemajuan menuju kesetaraan gender, namun kenyataannya diskriminasi gender masih sangat mendalam tertanam dalam masyarakat di seluruh dunia. Meskipun banyak kemajuan dalam kerangka hukum dan pendidikan, stereotip tentang peran perempuan terus mempengaruhi akses mereka terhadap peluang yang setara. Bias gender sering kali mempengaruhi keputusan perekrutan, promosi, dan jalur karier, dengan perempuan lebih sering diabaikan untuk posisi kepemimpinan dibandingkan dengan rekan laki-laki mereka. Hambatan budaya dan agama juga masih ada, terutama di negara-negara yang pandangan tradisional tentang peran gender masih kuat.

Misalnya, kesenjangan upah gender masih menjadi masalah signifikan di seluruh dunia. Menurut laporan 2024 dari International Labour Organization (ILO), perempuan menghasilkan sekitar 20% lebih sedikit daripada laki-laki secara global, sebuah angka yang tetap relatif stabil selama dekade terakhir. Kesenjangan ini lebih lebar di negara-negara berkembang dan di antara perempuan yang bekerja di industri dengan upah rendah, yang semakin memperburuk ketidaksetaraan. Ketidaksetaraan ini bukan hanya masalah uang tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial yang lebih dalam dan pengakuan atas kontribusi perempuan baik dalam ekonomi maupun masyarakat. Di banyak masyarakat, pekerjaan perempuan, baik di sektor formal maupun informal, sering kali dianggap kurang penting, dan hal ini diperparah oleh stereotip gender yang memposisikan perempuan sebagai ‘pengasuh’ atau caretaker daripada kontributor ekonomi. Selain itu, perempuan lebih mungkin bekerja di pekerjaan paruh waktu, sementara waktu, atau informal yang biasanya dibayar lebih rendah dan tidak memiliki tunjangan seperti asuransi kesehatan atau tabungan pensiun. Ketidaksetaraan struktural ini di pasar tenaga kerja membatasi kemandirian ekonomi perempuan, membatasi kemampuan mereka untuk menabung, berinvestasi, dan merencanakan masa depan mereka. Akibatnya, kesenjangan upah gender tidak hanya menjadi masalah keuangan tetapi juga mencerminkan tantangan sistemik yang lebih besar yang dihadapi perempuan dalam mengamankan peluang dan pengakuan yang setara di tempat kerja.

Untuk mempercepat kemajuan menuju kesetaraan gender, diperlukan tindakan nyata. Salah satu langkah pertama adalah meningkatkan perwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan di semua sektor, terutama di politik dan bisnis. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan kebijakan afirmatif yang memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk naik ke posisi tinggi, sama seperti laki-laki. Kuota gender untuk jabatan politik, dewan perusahaan, dan posisi kepemimpinan telah terbukti efektif di beberapa negara dan harus diperluas secara global. Di tempat kerja, perusahaan harus mengadopsi kebijakan yang lebih inklusif, termasuk transparansi gaji, praktik perekrutan yang tidak diskriminatif, dan menciptakan lingkungan yang aman di mana perempuan dapat berkembang. Transparansi dalam gaji membantu mengidentifikasi dan mengatasi kesenjangan upah, sementara menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas dari pelecehan memastikan bahwa perempuan dapat menjalankan pekerjaan mereka tanpa takut diskriminasi atau pelecehan.

United Nations Sustainable Development Goal (SDG) 5, yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan gadis pada tahun 2030, menegaskan pentingnya menutup kesenjangan gender di berbagai sektor. SDG ini menyerukan penghapusan semua bentuk kekerasan, memastikan partisipasi yang setara dalam kepemimpinan, dan menangani pekerjaan perawatan yang tidak dibayar. Mencapai SDG 5 membutuhkan tindakan kebijakan yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang adil bagi perempuan di rumah, di pendidikan, dan di tempat kerja. Pemerintah di seluruh dunia didorong untuk mengadopsi kebijakan yang lebih kuat yang mendukung kesetaraan gender dan memastikan bahwa industri bertanggung jawab atas kemajuan mereka. Mencapai SDG 5 membutuhkan pendekatan multi-faceted yang tidak hanya mencakup kerangka hukum dan kebijakan tetapi juga sikap dan praktik sosial yang mempertahankan ketidaksetaraan gender. Pemerintah harus melaksanakan dan menegakkan kebijakan yang memberikan akses yang setara terhadap sumber daya dan peluang bagi perempuan, seperti pendidikan, layanan kesehatan, dan layanan keuangan. Selain itu, mengatasi pembagian kerja berbasis gender di rumah sangat penting untuk memastikan perempuan memiliki partisipasi yang setara di angkatan kerja dan dalam posisi kepemimpinan. Hal ini termasuk kebijakan yang mendukung tanggung jawab perawatan bersama, cuti keluarga yang dibayar, dan perawatan anak yang terjangkau, yang memungkinkan perempuan untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dan pribadi mereka tanpa menghadapi diskriminasi atau kemunduran karier. Selain itu, sektor swasta memainkan peran penting dalam memajukan kesetaraan gender dengan mengadopsi kebijakan yang memastikan gaji yang adil, mencegah diskriminasi, dan menciptakan tempat kerja inklusif di mana perempuan dapat berkembang. Komunitas global harus bersatu untuk memastikan bahwa SDG 5 bukan hanya seperangkat aspirasi tetapi kenyataan yang nyata, di mana hak-hak perempuan dihormati dan mereka diberi kesempatan untuk berkontribusi pada masyarakat dengan posisi yang setara dengan laki-laki.

Langkah penting lain dalam mempercepat kesetaraan gender adalah membina budaya kesadaran sejak dini. Pendidikan kesetaraan gender harus diintegrasikan dalam kurikulum sekolah di seluruh dunia untuk menanamkan nilai-nilai rasa hormat, keadilan, dan inklusi pada generasi mendatang. Mengajarkan anak-anak tentang kesetaraan gender sejak usia dini tidak hanya memberdayakan gadis-gadis tetapi juga memastikan bahwa anak laki-laki tumbuh dengan pandangan yang lebih adil tentang peran gender. Orang tua, pendidik, dan komunitas semua memiliki peran dalam membentuk persepsi ini, yang sangat penting untuk menghapus stereotip berbasis gender. Kebutuhan untuk pendidikan semacam ini sangat mendesak. Bias gender sering terbentuk pada usia dini, dan semakin lama bias ini bertahan, semakin sulit untuk menghapusnya. Oleh karena itu, upaya harus difokuskan pada mendidik baik gadis maupun anak laki-laki untuk mempromosikan masa depan yang setara.

Selain pendidikan gender, perempuan dan gadis-gadis memerlukan akses terhadap pendidikan berkualitas di semua tingkat. Gadis-gadis terus menghadapi hambatan yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki dalam menyelesaikan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, terutama di daerah yang kurang berkembang. Menurut UNICEF, 130 juta gadis di seluruh dunia tidak bersekolah, dengan sistem pendidikan di sub-Sahara Afrika dan beberapa bagian Asia Selatan khususnya kurang akses bagi gadis-gadis. Memberikan akses yang setara terhadap pendidikan sangat penting untuk menutup kesenjangan gender, karena perempuan yang terdidik lebih cenderung memiliki hasil ekonomi yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, dan partisipasi politik yang lebih besar. Selain manfaat langsung, pendidikan juga memberdayakan perempuan untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka. Ketika gadis-gadis terdidik, mereka lebih cenderung menentang norma-norma gender yang merugikan dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, baik di rumah maupun di ranah publik. Ripple effect ini tidak hanya memperbaiki kehidupan perempuan itu sendiri tetapi juga memiliki dampak jangka panjang pada seluruh masyarakat dengan mempromosikan perkembangan sosial dan ekonomi. Seiring perempuan mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan keterampilan, mereka lebih siap untuk keluar dari siklus kemiskinan dan berkontribusi pada kemajuan komunitas mereka.

Lebih dari itu, mengatasi norma-norma budaya dan sosial yang membatasi partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dan kehidupan publik sangat penting. Banyak perempuan menghadapi tantangan karena harapan budaya tentang peran mereka dalam keluarga, yang sering kali mengutamakan tanggung jawab pengasuhan dibandingkan dengan pengembangan profesional. Norma-norma gender ini membatasi pilihan dan peluang perempuan, membatasi kemampuan mereka untuk berkontribusi pada masyarakat dengan cara yang berarti. Pemerintah, organisasi, dan komunitas harus bekerja sama untuk meruntuhkan norma-norma kuno ini dan mempromosikan pendekatan yang lebih inklusif terhadap pekerjaan dan kehidupan keluarga. Ini dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan yang mendorong tanggung jawab pengasuhan yang dibagi dan pekerjaan rumah tangga, seperti cuti keluarga yang dibayar dan perawatan anak yang terjangkau. Kebijakan-kebijakan ini akan memastikan bahwa perempuan tidak perlu memilih antara kemajuan karier dan merawat keluarga mereka, membantu menciptakan kesetaraan.

Tempat kerja harus menciptakan kebijakan yang mendukung perempuan baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi mereka. Dengan menawarkan jam kerja fleksibel, peluang kerja jarak jauh, dan kebijakan cuti orang tua yang komprehensif, perusahaan dapat menciptakan budaya yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja. Langkah-langkah ini tidak hanya menguntungkan perempuan tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kepuasan karyawan, menjadikannya situasi menang-menang bagi pemberi kerja dan karyawan. Penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki fleksibilitas untuk mengatur jadwal kerja mereka di sekitar tanggung jawab keluarga cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah, kepuasan kerja yang lebih tinggi, dan rasa loyalitas yang lebih besar terhadap pemberi kerja mereka. Perusahaan yang memprioritaskan keseimbangan kehidupan kerja juga melihat tingkat retensi yang lebih tinggi, karena karyawan lebih kecil kemungkinannya untuk meninggalkan pekerjaan ke posisi lain yang tidak memberikan fleksibilitas. Mendukung kesejahteraan profesional dan pribadi perempuan membantu bisnis menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung, sambil juga mendapatkan keunggulan kompetitif dengan menarik dan mempertahankan talenta terbaik dari berbagai gender.

Peran upaya kolektif tidak bisa dipandang sebelah mata ketika datang untuk mempercepat kesetaraan gender. Pemerintah, bisnis, dan individu semuanya memiliki peran untuk dimainkan dalam memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk sukses seperti rekan laki-laki mereka. Pemerintah harus membuat regulasi yang lebih ketat untuk melindungi perempuan dari diskriminasi gender, menjamin peluang yang setara di semua bidang, dan memastikan bahwa suara perempuan didengar dalam proses pengambilan keputusan. Penerapan hukum yang mewajibkan gaji yang setara, melindungi dari pelecehan, dan memberikan cuti untuk tanggung jawab pengasuhan sangat penting dalam proses ini.

Perusahaan sektor swasta juga harus melakukan langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa tempat kerja mereka mendukung pertumbuhan dan kesuksesan perempuan. Salah satu langkah awal yang penting adalah dengan mengatasi bias yang ada dalam praktik perekrutan. Bias ini seringkali menghalangi perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang setara dalam proses seleksi dan promosi. Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur perekrutan mereka, dengan memastikan bahwa setiap keputusan diambil berdasarkan kualifikasi dan potensi, bukan berdasarkan stereotip gender. Selain itu, perusahaan juga perlu menerapkan program pelatihan yang efektif untuk mengatasi diskriminasi gender yang mungkin muncul baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Pelatihan semacam ini bisa membantu menciptakan kesadaran yang lebih tinggi di kalangan manajer dan karyawan mengenai pentingnya kesetaraan dan mengurangi perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan di tempat kerja.

Namun, perusahaan seharusnya tidak hanya berfokus pada menarik perempuan untuk bergabung dalam dunia kerja, tetapi juga pada bagaimana mempertahankan mereka setelah mereka masuk. Untuk itu, perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan untuk berkembang dan memimpin. Hal ini mencakup pemberian kesempatan yang sama untuk perempuan dalam pelatihan, pengembangan karier, dan akses ke posisi-posisi kepemimpinan. Perusahaan yang baik harus dapat memberikan ruang bagi perempuan untuk menunjukkan potensi mereka tanpa adanya pembatasan yang disebabkan oleh norma-norma tradisional atau hambatan struktural. Selain itu, perusahaan perlu membangun budaya kerja yang inklusif, di mana keberagaman, baik dalam gender, latar belakang, maupun pengalaman, dihargai dan diakomodasi. Ini bukan hanya soal menerapkan kebijakan yang adil, tetapi juga tentang mengubah budaya organisasi untuk menciptakan tempat kerja yang benar-benar mendukung kesetaraan dan memberdayakan perempuan untuk sukses dalam berbagai bidang.

Di tingkat individu, setiap orang dapat berkontribusi untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Baik dengan menantang stereotip gender, mengadvokasi perlakuan yang setara, atau mendukung perempuan di komunitas mereka, individu memiliki peran yang sangat penting dalam mempercepat aksi menuju kesetaraan gender. Laki-laki, khususnya, harus menjadi sekutu dalam perjuangan ini. Mereka bisa menggunakan platform dan suara mereka untuk mendukung hak-hak perempuan, menantang praktik diskriminatif, dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung kesetaraan gender. Selain itu, media dan platform digital memiliki peran besar dalam menyebarkan pesan kesetaraan gender, menyebarkan kesadaran, dan menuntut akuntabilitas dari institusi. Kekuatan media sosial tidak bisa dianggap remeh dalam mendorong perubahan dan memicu aksi kolektif secara global.

Sebagai kesimpulan, tema Accelerate Action untuk International Women’s Day 2025 mengingatkan kita bahwa waktunya untuk bertindak adalah sekarang. Kita tidak bisa menunggu lagi satu generasi untuk mencapai kesetaraan gender. Pemerintah, bisnis, dan individu harus bekerja sama untuk menerapkan kebijakan, menciptakan peluang, dan membangun budaya yang memberdayakan perempuan. Mencapai kesetaraan gender memerlukan lebih dari sekadar kata-kata, hal ini membutuhkan aksi. Saat kita merayakan IWD 2025, kita harus berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi dan mempercepat kemajuan menuju dunia di mana kesetaraan gender bukan hanya mimpi, tetapi kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA

Harvard Business Review. (2024). Why Diversity and Inclusion Matter: The Business Case for Gender Equality. Retrieved from https://hbr.org

International Labour Organization (ILO). (2024). Global Wage Report 2024: The Impact of COVID-19 on Gender Pay Gaps. Retrieved from https://www.ilo.org/global/publications/WCMS_738462/lang–en/index.htm

McKinsey & Company. (2024). The Power of Parity: Advancing Women’s Equality in the Workplace. Retrieved from https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/the-power-of-parity

OECD. (2024). Gender Equality in Education, Employment and Entrepreneurship: Final Report to the MCM 2024. Retrieved from https://www.oecd.org/social/gender-equality-in-education-employment-and-entrepreneurship.htm

Pew Research Center. (2024). The State of Gender Equality in 2024. Retrieved from https://www.pewresearch.org/fact-tank

United Nations. (2024). Sustainable Development Goal 5: Achieve Gender Equality and Empower All Women and Girls. Retrieved from https://sdgs.un.org/goals/goal5

United Nations Women. (2024). Gender Equality and Women’s Empowerment. Retrieved from https://www.unwomen.org/en

UNICEF. (2024). Education: Gender Equality in Education. Retrieved from https://www.unicef.org/education/gender-equality

World Bank. (2024). Women, Business, and the Law 2024. Retrieved from https://www.worldbank.org/en/publication/women-business-and-the-lawWorld Economic Forum. (2024). Global Gender Gap Report 2024. Retrieved from https://www.weforum.org/reports/global-gender-gap-report-2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts