Ditulis oleh Rahmad Aidil Ali Lubis
Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Pada 2025, tercatat 249,82 juta Warga Negara Indonesia adalah Muslim yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Hal tersebut telah membawa posisi tawar Indonesia di dunia Islam secara khusus dan di negara Timur Tengah secara umum dalam hubungan internasional dan diplomasi antar negara.
Islam di Indonesia didominasi oleh Islam Sunni atau yang sering disebut Ahlu Sunnah wa al-Jamaah yang atas hal itu, telah mengantarkan Indonesia memiliki hubungan bilateral yang dekat dengan negara Sunni lainnya seperti Arab Saudi, Mesir dan lain-lain. Hubungan antar negara yang dibangun atas dasar kesamaan sekte keagamaan–dalam pandangan konstruktivisme–menunjukkan bahwa kerja sama yang dilakukan oleh antar negara tak selamanya tentang ekonomi, militer ataupun hal yang bersifat pragmatis lainnya, tetapi juga didasarkan pada kesamaan identitas–dalam hal ini identitas keagamaan, nilai-nilai yang dianut bersama dan norma.
Namun, Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia juga telah menjadikan Indonesia sebagai arena perang narasi antar negara Muslim dalam merebut pengaruh Islam di Indonesia. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana Indonesia yang mayoritas Islam Moderat, dijadikan sebagai arena pertarungan narasi antara Arab Saudi dengan ideologi Islam Salafi-Wahabi, dan Iran dengan ideologi Islam Syiah.
Rivalitas antara Arab Saudi dan Iran telah memanas sejak pecahnya Revolusi Islam pada 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini. Revolusi yang digerakkan oleh ulama tersebut telah menggulingkan Dinasti Shah Pahlavi dan membuat hubungan Iran dan Arab Saudi menjadi berjarak akibat perbedaan ideologi yang dianut oleh kedua negara. Rivalitas kedua negara termanifestasikan pada berbagai bantuan luar negeri yang dilakukan oleh kedua negara di Timur Tengah.
Perbedaan ideologi antara kedua negara telah menyebabkan terjadinya perebutan dominasi wilayah Timur Tengah, tak hanya itu kepemimpinan di Dunia Islam juga menjadi arena perebutan antar dua negara. Hal tersebut berpengaruh kepada terkotaknya negara Muslim dalam menanggapi persaingan tersebut. Negara-negara Sunni seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman dan Bahrain cenderung memihak kepada Saudi, sedangkan Yaman yang didominasi oleh Syiah cenderung berpihak kepada Iran. Rivalitas kedua negara tersebut menjadi salah satu dinamika geopolitik paling berpengaruh di Timur Tengah sejak 1979 hingga hari ini.
Persaingan keduanya jelas terlihat pada persaingan militer dan politik. Arab Saudi misalnya, membantu milisi pemberontak Hayat Tahrir al-Sham di Suriah untuk melawan rezim Bashar al-Assad yang didukung oleh Iran. Iran juga membantu Houthi di Yaman untuk menguasai pemerintahan. Arab Saudi juga memerangi pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran. Di Lebanon, kelompok-kelompok yang masing-masing didukung oleh kedua negara tersebut saling memerangi satu sama lain dalam memperebutkan kendali dan kekuasaan. Saat Arab Saudi memblokade perdagangan di Qatar, hubungan antara Qatar dan Iran membaik dalam rangka membendung pengaruh Saudi. Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran telah mencapai klimaks dalam sejarah, aliansi antara keduanya–Arab Saudi dengan Amerika Serikat dan Iran dengan Tiongkok dan Rusia, dimana aliansi tersebut selaras dengan kekuatan pembentuk tatanan dunia hari ini.
Suriah yang merupakan negara dengan mayoritas Islam Sunni, konflik bersenjata dimulai pada 2011 hingga 2024. Konflik bersenjata tersebut telah menyebabkan lebih dari 250.000 kematian, 1 juta korban luka, lebih dari 5,6 penduduk mengungsi, 6,1 juta penduduk mengungsi di dalam negeri, dan lebih dari 13 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan (laporan 2018). Dalam konflik Suriah, Arab Saudi memberikan dukungan kepada kelompok pemberontak, contoh dukungan tersebut adalah pengiriman senjata yang diproduksi Amerika Serikat dan dijual secara legal ke Arab Saudi yang diberikan kepada kelompok al-Nusra, kelompok pemberontak Islamis yang memerangi rezim Assad (Investigasi Robert Fisk, dipublikasikan di The Independent, 2018).
Di Yaman, konflik bersenjata dimulai ketika gejolak yang diakibatkan oleh Musim Semi Arab. Presiden Ali Abdullah Saleh dipaksa mundur dan digantikan oleh wakilnya–Abdrabbuh Mansour yang didukung oleh Arab Saudi. Kelompok Houthi yang merupakan penganut Syiah bersekutu dengan Presiden Saleh menaklukkan ibu kota Sanaa menggulingkan Presiden Hadi. Arab Saudi mendukung mantan Presiden untuk melawan Houthi, pemerintah Iran dituduh telah memasok senjata untuk Houthi.
Dalam persaingan antara Arab Saudi dan Iran, tidak bisa hanya dilihat dari dimensi fisik nan pragmatis layaknya militer atau ekonomi. Persaingan antara keduanya adalah manifestasi dari perjalanan sejarah Islam yang kini dipresentasikan oleh kedua negara tersebut. Maka dalam artikel ini akan membicarakan bagaimana Arab Saudi dan Iran memperebutkan narasi keIslaman di Indonesia. Terutama Indonesia merupakan arena yang strategis dalam menyebarkan ideologi keIslaman yang dibawa oleh Arab Saudi dan Iran.
Persaingan antara kedua negara tersebut semakin cepat dalam arus pertukaran ide dan narasi yang dibawa di era digital. Globalisasi pada hari ini telah mempermudah kedua negara tersebut dalam mengekspor ide-ide dan nilai-nilai yang hendak disebar di Indonesia. Penyebaran ide melalui media digital dan lain sebagainya telah menjadikan publik Indonesia sebagai arena persaingan kedua negara Islam tersebut.
Artikel ini menggunakan beberapa konsep dalam menganalisis persaingan antara Arab Saudi dan Iran di Indonesia, salah satunya ialah konsep soft power yang diperkenalkan oleh Joseph Nye. Soft Power adalah kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui tindakan daya tarik dibandingkan paksaan (Joseph Nye, 2008). Soft power adalah istilah untuk menjelaskan bagaimana kemampuan badan politis dalam hal ini negara untuk memperlihatkan pengaruh atas tingkah laku dan kepentingannya melalui pengaruh budaya, kebijakan dan ideologi. Nye membagi antara hard power dan soft power. Militer dan kekuasaan ekonomi adalah contoh dari hard power, dengan cara ini digunakan untuk memaksa orang lain merubah posisinya. Hard power erat kaitannya dengan bujukan, daya tarik ataupun ancaman. Sementara itu, soft power bergantung pada kemampuan suatu negara dalam mengatur agenda politik yang bisa menjadi preferensi bagi negara lainnya. Kemampuan sebuah negara tersebut dihubungkan dengan kekuasaan yang bersifat abstrak seperti kebudayaan, ideologi dan institusi. Kekuasaan abstrak tersebut dapat menginspirasi negara lain secara tidak langsung.
Arab Saudi memiliki signifikansi keagamaan dan spiritual yang besar karena menjadi rumah bagi situs dua kota suci–Mekah dan Madinah. Keberadaan kedua situs tersbeut telah memberikan peran yang unik bagi Arab Saudi dalam dunia diplomatik dan kepemimpinan Islam global. Arab Saudi memanfaatkan hal tersebut dengan membangun ikatan yang kuat dengan komuniyas Muslim global dan memperkuat hubungan internasionalnya melalui diplomasi agama.
Arab Saudi yang memiliki posisi strategis sekaligus kritis dalam politik global karena dua kota suci Mekah dan Madinah dan sumber daya energinya, telah memainkan peran penting dalam politik di tingkat regional karena persaingannya dengan Iran di Timur Tengah. Iran sebagai pemimpin Syiah dan Arab Saudi sebagai pemimpin Sunni serta berbagai langkah yang ditempuh oleh kedua negara tersebut telah meningkatkan ketegangan dan membentuk keseimbangan di kawasan tersebut. Arab Saudi berusaha mengimbangi pengaruh Iran melalui kepemimpinannya di dalam organisasi regional seperti GCC dan Liga Arab.
Dalam membendung pengaruh Iran, Arab Saudi menggabungkan antara hard power dan soft power untuk melindungi kepentingannya di tingkat global dan regional. Dalam perkembangan kebijakannya, Arab Saudi terlibat dalam kegiatan soft power dengan menyebarkan gagasan keagamaan Salafi-Wahabi ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Melalui lembaga pendidikan, yayasan amal, Arab Saudi membuat ajaran Islam yang unik dan pengaruhnya terasa di wilayah geografis dengan jangkauan yang luas. Dengan strategi soft power ini, Arab Saudi telah mengkonsolidasikan kepemimpinan agamanya sekaligus membendung pengaruh Iran.
Arab Saudi dengan penyebarannya ideologi Salafi-Wahabi nya, mencoba memengaruhi kebijakan politik luar negeri negara-negara Muslim. Perlu diingat bahwa agama bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan. Indonesia menjadi negara yang memiliki sejarah panjang interaksi keagamaan dengan Semenanjung Arab.
Arab Saudi telah hadir di Indonesia sejak era Sukarno. Sejak 1950-an, Arab Saudi mengadopsi penyebaran ide-ide Pan-Islamisme dalam kebijakan luar negerinya untuk melawan nasionalisme Arab sekuler Nasser yang dirasa sebagai ancaman eksistensial baginya. Pasca Revolusi Syiah Iran 1979, komitmen Arab Saudi untuk membangun aliansi global di dunia Muslim dan menyebarkan Salafi-Wahabi semakin meningkat. Pada periode ini, Arab Saudi dan Indonesia semakin akrab karena kepentingan bersama dalam membendung pengaruh Syiah Iran pada masyarakat Indonesia. Krisis minyak yang mengakibatkan lonjakan harga minyak pada 1973 berkontribusi pada penyebaran pengaruh Arab Saudi di negara Muslim. Dengan sumber daya yang dimiliki oleh Saudi, telah mampu menyebarkan ideologinya melalui bantuan pemerintah, yayasan keagamaan seperti Yayasan Al-Haramain, organisasi internasional seperti Liga Dunia Muslim (MWL), dan bentuan individu Saudi. Bantuan umumnya disalurkan melalui Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang berdiri pada 1967, dan Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang berdiri pada 1980. Bantuan tersebut digunakan dalam berbagai bidang terutama beasiswa untuk belajar di universitas di Saudi, menyediakan guru, buku teks, Al-Qur’an dam buku-buku keagamaan.
Upaya Saudi tersebut bertepatan dengan apa yang disebut Islamic Awakening, di Asia Tenggara. Ini adalah periode meningkatnya kesadaran prinsip-prinsip Islam, dimana di kalangan politisi dan akademisi, kesadaran ini meningkat. Pada saat yang sama, Soeharto sedang berkuasa. Soeharto berusaha untuk mengurangi pengaruh Islam politik di Indonesia, yang berakibat pada melemahnya gerakan Salafi-Wahabi.
Perkembangan terpenting dalam aktivitas soft power Arab Saudi ialah pada tragedi 9/11. Setelah tragedi ini, citra Saudi menjadi buruk di mata internasional, karena alasan ini seiring berjalannya waktu, Arab Saudi mengadopsi interpretasi Islam yang inklusif, toleran, damai dan moderat sebagai pengganti soft power yang konservatif dan kaku. Contoh pendekatan ini adalah saat kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada 2017, dimana Ia memilih Bali sebagai tempat persinggahannya.
Agar seorang aktor dapat mencapai soft power di kancah internasional, ia harus tampil menarik dan memikat. Daya tarik dari aktor sumber ini akan membentuk preferensi orang lain tanpa adanya paksaan. Hal ini berhubungan langsung dengan citra positif aktor tersebut. Citra positif Arab Saudi di mata publik Indonesia terlihat jelas dalam laporan Lowy Institute tahun 2021 bertajuk “How Indonesians See the World”. Menurut laporan ini, orang Indonesia menyatakan tingkat kepercayaan tertinggi kepada pemimpin mereka Joko Widodo sebesar 74%, diikuti oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sebesar 57%. Patut dicatat bahwa Mohammed bin Salman menduduki peringkat kedua dengan skor yang sangat tinggi, melampaui para pemimpin aktor global seperti AS, Rusia, dan China, serta aktor regional seperti Jepang dan Australia. Dalam laporan yang sama, “termometer sentimen” digunakan untuk mengukur perasaan responden terhadap negara-negara lain, yang dapat mereka beri nilai pada skala 0 hingga 100. Pada ukuran ini, Arab Saudi berada di urutan teratas dengan skor 70, menjadikannya negara dengan citra paling disukai di mata orang Indonesia. Sebaliknya, Jepang, yang memiliki ikatan ekonomi, politik, dan budaya yang lebih dekat dengan Indonesia dibanding negara lain, mencetak 64 poin, sementara Singapura dan Malaysia mencetak 63 poin. Hasil ini dengan jelas menunjukkan citra positif dan soft power Arab Saudi di mata masyarakat Indonesia.
Berdasarkan artikel Political Diplomacy, Religion and Culture: Analysing Iran’s Geopolitical and Ideological Interests in Indonesia karya Mulawarman Hannase dan Idil Hamzah, Iran memandang Indonesia sebagai negara strategis karena merupakan negara Muslim terbesar di dunia sekaligus aktor penting di kawasan Asia Tenggara. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran tidak hanya mengandalkan instrumen politik dan ekonomi dalam hubungan luar negerinya, tetapi juga mengembangkan diplomasi budaya, agama, dan pendidikan sebagai sarana memperluas pengaruhnya. Indonesia menjadi salah satu target penting dalam kebijakan tersebut karena memiliki posisi yang potensial untuk membantu Iran memperkuat kehadirannya di dunia Islam sekaligus mengurangi dampak isolasi internasional yang selama ini dihadapi akibat sanksi Barat.
Menurut penelitian ini, strategi Iran di Indonesia merupakan kombinasi antara kepentingan geopolitik dan penyebaran pengaruh ideologis. Dari sisi geopolitik, Iran berusaha membangun kemitraan dengan negara-negara Global South dan negara-negara Muslim di luar Timur Tengah sebagai bagian dari kebijakan diversifikasi mitra strategis. Indonesia dipandang penting karena memiliki kebijakan luar negeri bebas aktif, posisi berpengaruh di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta potensi ekonomi yang besar. Hubungan dengan Indonesia juga menjadi sarana bagi Iran untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya terisolasi dalam sistem internasional. Dalam konteks ini, Indonesia tidak hanya dilihat sebagai mitra ekonomi, tetapi juga sebagai arena penting dalam kompetisi pengaruh Iran dengan Arab Saudi di dunia Islam.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Iran banyak mengandalkan instrumen soft power. Salah satu aktor utama yang digunakan adalah Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta yang berfungsi sebagai pusat diplomasi publik dan budaya Iran. Melalui ICC, Iran menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi intelektual, kursus bahasa Persia, pemutaran film, pameran seni, festival budaya, hingga penerjemahan karya-karya pemikir Iran ke dalam bahasa Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, Jalaluddin Rumi, dan Ayatollah Khomeini diperkenalkan kepada publik Indonesia melalui berbagai saluran akademik dan kebudayaan. Strategi ini menunjukkan bahwa Iran lebih memilih membangun pengaruh melalui daya tarik intelektual dan budaya dibandingkan pendekatan konfrontatif.
Selain diplomasi budaya, Iran juga menggunakan pendidikan sebagai instrumen penting. Pemerintah Iran menyediakan berbagai beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di universitas-universitas Iran, terutama dalam bidang studi Islam, filsafat, dan pemikiran Syiah. Alumni dari program-program tersebut kemudian menjadi bagian dari jaringan intelektual yang berperan dalam memperkenalkan pemikiran Iran di lingkungan akademik, pesantren, maupun komunitas keagamaan tertentu. Namun demikian, penelitian ini menegaskan bahwa penyebaran pengaruh Iran di Indonesia umumnya dilakukan secara persuasif dan simbolik, bukan melalui mobilisasi politik terbuka. Narasi yang sering dikedepankan adalah perlawanan terhadap imperialisme Barat, dukungan terhadap Palestina, pentingnya keadilan sosial, dan penghargaan terhadap rasionalitas dalam tradisi Islam.
Meski demikian, pengaruh Iran di Indonesia menghadapi berbagai keterbatasan. Mayoritas masyarakat Muslim Indonesia berafiliasi dengan tradisi Sunni sehingga terdapat resistensi terhadap penyebaran ideologi Syiah. Selain itu, pemerintah Indonesia cenderung menjaga stabilitas sosial dan moderasi beragama sehingga berhati-hati terhadap segala bentuk penetrasi ideologi asing yang berpotensi memicu polarisasi sektarian. Karena itu, meskipun Iran berhasil membangun kehadiran yang cukup kuat di kalangan akademisi, komunitas intelektual, dan sebagian kelompok Muslim tertentu, pengaruhnya belum mampu mendominasi ruang keagamaan Indonesia secara luas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diplomasi Iran di Indonesia lebih tepat dipahami sebagai upaya membangun legitimasi, jaringan intelektual, dan pengaruh budaya dalam jangka panjang, sekaligus sebagai bagian dari kompetisi yang lebih luas dengan Arab Saudi dalam memperebutkan otoritas dan pengaruh di dunia Islam.
Referensi
Ardhian, M. (2025). Impact of Saudi Arabia’s soft diplomacy to Islamic cultural in Indonesia. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 11(10B), 111–117.
Aydın, R., & Ramadhan, J. (2025). Opportunities and challenges of Saudi Arabia’s soft power policies over Indonesia. In I. K. Rohman et al. (Eds.), Proceedings of the International Conference on Strategic and Global Studies (ICSGS 2024) (Atlantis Highlights in Social Sciences, Education and Humanities, Vol. 33, pp. 598–613). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-94-6463-646-8_36
Hannase, M., & Hamzah, I. (2020). Political diplomacy, religion and culture: Analysing Iran’s geopolitical and ideological interests in Indonesia. Jurnal Hubungan Internasional, 9(2), 183–197.
Jayanti, A. (2024). Soft power through pilgrimage: Analyzing Saudi Arabia’s 2024 King Salman Omra Program in Indonesia. Jurnal Transformasi Global, 11(2), 222–242.
Kharmain, M. M. (2025). Diplomasi budaya Indonesia melalui International Cultural Festival di Madinah Arab Saudi 2023. Diplomacy and Global Security Journal: Jurnal Mahasiswa Magister Hubungan Internasional, 2(1), 673–683.
Mandaville, P., & Hamid, S. (2018). Islam as statecraft: How governments use religion in foreign policy. Brookings Institution.
Ravi, M. (2019). The foreign policy objectives of Saudi Arabia and Iran in Indonesia (Master’s thesis, Sakarya University).
Sukma, R. (2011). Soft power and public diplomacy: The case of Indonesia. In J. Melissen & Y. Sohn (Eds.), Public diplomacy and soft power in East Asia (pp. 91–115). Palgrave Macmillan.
Togoo, R. R. (2022). Iran look to the east policy: Case study of Indonesia. Journal of Iranian Studies, 6(16), 97–114.
Zarkasyi, F. I., & Effendi, I. (2023). Moderasi Islam sebagai diplomasi publik Arab Saudi di Indonesia. Jurnal ISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 20(1), 19–32.








Tinggalkan Balasan