Jl. Rs. Fatmawati, Pondok Labu – South Jakarta

fpciupnvj@upnvj.ac.id

@fpciupnvj

Top Gun dan Ilusi Superioritas AS Terhadap Iran

Ditulis oleh Bimo Nugroho Ramadhani & Sakinah Azzalea Nurul Fadillah

Bayangkan kecanggihan jet tempur F/A-18 Super Hornet Maverick dalam film Top Gun: Maverick terjadi di dunia nyata? Hal ini betul terjadi dalam eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat (AS), ketika AS menggunakan jet tempur F-15E Strike Eagle dalam operasi Epic Furry untuk melumpuhkan rezim Tehran. Dalam film Top Gun: Maverick, AS memamerkan kecanggihan teknologi militer sebagai negara adidaya. Bahkan, kemenangan yang diperoleh juga berasal dari bagaimana suatu negara meraih kemenangan karena kecanggihan militer yang dimiliki. Hal ini memberi ilusi superioritas bahwa teknologi membuat perang antara negara-negara adidaya militer melawan negara-negara dengan kekuatan militer yang lebih lemah menjadi lebih mungkin terjadi.

Konflik Iran-AS lebih dari sekedar permasalahan politik. Kecaman publik muncul setelah melihat motif konflik Iran dan AS. Protes telah dilayangkan oleh 56% penduduk AS terkait penggunaan dana pajak untuk kebutuhan perang dan bagaimana Donald Trump menangani konflik (Searchlight Institute, 2026). Tindakan AS pun dikecam warga internasional yang terdampak lonjakan harga minyak dunia akibat penutupan selat Hormuz oleh Iran. Di sisi lain, penyerangan AS terhadap pemimpin Iran mengakibatkan pergeseran rezim dan menimbulkan berbagai reaksi masyarakat. Kecemasan nasional pun muncul akibat penyerangan AS-Israel yang berdampak pada kawasan ramai penduduk. Seiring dengan kondisi politik, konflik tersebut diiringi dengan eskalasi ancaman militer.

Ancaman eskalasi konflik menimbulkan security dilemma masing-masing negara. Perbedaan kekuatan militer antar dua negara menimbulkan pertanyaan mengenai ilusi superioritas bahwa kepemilikan teknologi militer canggih dan ketahanan sistemik yang kuat mampu menjadi modal utama kekuatan sebuah negara. Adapun perbandingan kekuatan militer Iran dan AS penting untuk dianalisis guna mengukur pertahanan kedua pihak jika situasi konflik berkembang lebih luas kedepannya. 

Jika dalam produksinya Top Gun: Maverick tidak enggan merogoh kocek sebesar 11.375 dollar AS per jam untuk menyewa jet tempur F/A-18, maka AS sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia tentu menaruh anggaran besar dalam bidang militernya. Dilansir CNBC Indonesia, anggaran pertahanan AS tercatat sebesar US$ 962 miliar atau setara Rp16.219 triliun. Hal ini tentu berdampak besar pada posisi kekuatan militer AS di tingkat global. Menurut data Global Fire Power (GFP) 2026, kemampuan militer kedua negara terlihat melalui Power Index yaitu indikator yang mengukur kekuatan militer suatu negara berdasarkan aspek personel, persenjataan, logistik, anggaran, hingga kesiapan tempur. Semakin kecil nilai indeks maka semakin kuat kekuatan militernya. Data menyebutkan bahwa AS memiliki nilai di 0.0741, sedangkan Iran hanya memiliki nilai 0.3199. 

Sekilas perbedaan nilai indeks tersebut menggambarkan perbedaan kecanggihan militer yang dimiliki masing-masing negara dimana menjadi faktor utama keberlangsungan konflik kedepannya.  Dalam film Top Gun: Maverick, jet tempur F/A-18 Super Hornet Maverick berhasil ditembak rudal Surface-to-Air Missile/SAM. Dalam realitas arena konflik, jatuhnya jet tempur seperti F-15E Strike Eagle dan F-35A Lightning II menjadi bukti bahwa tidak selamanya AS memiliki kekuatan absolut. Penyerangan AS dapat dipatahkan oleh Iran menggunakan sistem pertahanan udaranya, hal ini memberi kesimpulan bahwa kecanggihan teknologi militer tanpa ketahanan sistemik dapat membuka celah baru. 

Celah tersebut mampu dihadapi Iran dengan mengerahkan kekuatan militernya secara maksimal. Iran memandang teknologi drone dan rudalnya sebagai sarana untuk membalikkan keadaan melawan musuh dan memperoleh keunggulan kompetitif. Iran mengaplikasikan kemampuan asimetris dalam strategi militernya dimana berfokus untuk mengembangkan kemampuan senjata nuklir, mengancam dengan serangan rudal, dan menyandera pasar minyak global dengan menutup Selat Hormuz (Aritonang, 2019). Perang asimetris yang diadopsi Iran memberikan gambaran perbedaan kekuatan militer antara kedua negara. Adanya power imbalance dalam konflik ini menimbulkan pertanyaan bagaimana mungkin negara adidaya yang memiliki teknologi militer tertinggi di dunia tidak mampu sepenuhnya melumpuhkan lawannya? 

Kesenjangan militer yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran seringkali dipersepsikan melalui lensa budaya populer, misalnya seperti dalam film Top Gun: Maverick. Film ini merefleksikan perang modern sebagai arena yang dikuasai oleh keunggulan teknologi berupa jet tempur generasi terbaru, sistem targeting yang presisi, serta pilot elit yang mampu menjalankan misi dengan akurasi yang hampir sempurna. Di dalam narasi tersebut, superioritas Amerika Serikat di bidang teknologi bukan hanya menjadi keunggulan, tetapi juga faktor penentu dari keberhasilan operasi militer yang dilakukan. Secara tidak langsung, representasi ini memperkuat asumsi publik bahwa dalam konflik yang nyata, seperti yang saat ini dialami oleh Amerika Serikat dan Iran, hasil perang akan ditentukan oleh pihak yang memiliki teknologi militer paling canggih. Akan tetapi, seperti yang sudah dijelaskan dalam kajian strategi militer, pandangan ini cenderung reduksionis dan belum sepenuhnya merefleksikan konflik modern yang lebih kompleks (Freedman, 2015)

Dalam film Top Gun: Maverick, misi utama yang dijalankan menggambarkan operasi presisi tinggi terhadap fasilitas nuklir pihak lawan yang dijaga ketat dengan mengandalkan kombinasi teknologi canggih dan keterampilan pilot. Narasi ini merefleksikan apa yang disebut dengan technological determinism dalam studi militer, yaitu keyakinan bahwa teknologi dapat serta merta menentukan hasil dari pertempuran (Drew, 2016). Akan tetapi, jika dilihat dari konteks nyata konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran, pendekatan seperti ini menghadapi banyak keterbatasan. Iran tidak membangun kekuatan militernya sebagai upaya untuk menghadapi skenario serangan presisi seperti dalam film, melainkan sebagai upaya pertahanan dari serangan berulang melalui strategi dispersal, redundansi, dan penggunaan fasilitas bawah tanah (Cordesman & Kleiber, 2007). Dengan begitu, keberhasilan suatu misi dengan presisi tinggi tidak dengan secara langsung dianggap sebagai eliminasi total terhadap kapasitas militer pihak lawan. 

Lebih jauh, film ini menekankan dominasi udara sebagai faktor utama kemenangan, di mana ini juga menjadi sebuah asumsi yang sering muncul dalam doktrin militer Amerika Serikat. Akan tetapi, dalam realitas asymmetric warfare, dominasi udara tidak sepenuhnya menjamin kontrol penuh atas medan tempur. Iran, misalnya, mengandalkan sistem rudal balistik dan drone mereka sebagai upaya menciptakan ancaman yang tidak bergantung pada kekuatan udara konvensional (Cordesman, 2019). Adanya strategi ini memungkinkan Iran untuk tetap memberikan tekanan bahkan ketika ia sedang menghadapi lawan dengan superioritas udara. Dengan demikian, keunggulan yang ditunjukkan di dalam Top Gun: Maverick, yakni kemampuan untuk menembus pertahanan pihak lawan serta menghancurkan target dengan presisi tinggi tidak sepenuhnya merefleksikan dinamika konflik nyata yang melibatkan aktor dengan strategi non-konvensional. 

Selain itu, Top Gun: Maverick turut mengabaikan dimensi biaya dan keberlanjutan perang yang menjadi elemen yang paling penting dalam konflik modern. Dalam konteks ini, Kementerian Keuangan Israel memperkirakan bahwa biaya perang selama 40 hari melawan Iran dan Lebanon telah menghabiskan anggaran sebesar $17,5 miliar (Arnaout, 2026). Operasi militer yang ditunjukkan di dalam film bersifat cepat, terbatas, dan berfokus pada hasil langsung. Dengan kata lain, hal ini berkebalikan dengan realitas, di mana konflik antara Iran dan Amerika Serikat lebih mungkin berkembang menjadi konflik yang berkepanjangan, di mana faktor-faktor lain seperti logistik, biaya operasional, serta daya tahan menjadi penentu utama. Strategi cost-imposition yang digencarkan Iran melalui penggunaan senjata berbiaya rendah dalam menghadapi sistem pertahanan yang mahal menunjukkan bahwa perang bukan hanya soal efektivitas teknis, melainkan juga efisiensi ekonomi (Tabatabai, 2020). Dalam hal ini, keberhasilan dari taktis yang ditampilkan di film tak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan strategi berjangka panjang. 

Dengan begitu, Top Gun: Maverick dapat dipahami sebagai representasi ideal terhadap bagaimana perang modern seharusnya berlangsung menurut imajinasi militer dengan teknologi tinggi, tetapi tidak sebagai refleksi yang akurat dari bagaimana perang benar-benar terjadi dalam dunia nyata. Dalam realitas konflik yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, teknologi menentukan keunggulan yang signifikan memang benar adanya, terutama dalam fase awal pertempuran. Akan tetapi, hasil akhir konflik lebih ditentukan dengan kemampuan untuk beradaptasi, pemanfaatan kondisi geografi, serta pertahanan kapasitas tempur dalam jangka panjang (Freedman, 2015). Oleh sebab itu, sementara Top Gun: Maverick membantu untuk menegaskan bahwa superioritas teknologi berarti memenangkan pertempuran, analisis strategis justru menunjukkan bahwa kemenangan dalam perang modern ditentukan oleh kombinasi dari faktor-faktor yang jauh lebih kompleks dari sekadar superioritas teknologi. 

Referensi

Arnaout, A. R. (2026). Israel estimates $17.5B cost of 40 days of war on Iran, Lebanon. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-estimates-175b-cost-of-40-days-of-war-on-iran-lebanon/3899770 

Aritonang, R. P. (2019). Operasi Siber Ofensif Iran Terhadap Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi: Kepentingan dan Strategi Siber Ofensif Iran [PhD Thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA]. https://repository.unair.ac.id/87511 

Česnakas, G. (2019). The implications of the technological trends in military on the defence of small states. Lithuanian Annual Strategic Review: 2019., 17, 273–293. 

Cordesman, A. H. (2019). The Iranian Missile Challenge. Washington DC: Center for Strategic and International Studies. http://csis-website-prod.s3.amazonaws.com/s3fs-public/publication/20190604.Iran_Missile_Challenge.Revised.pdf 

Cordesman, A. H., & Kleiber, M. (2007). Iran’s Military Forces and Warfighting Capabilities. https://www.torrossa.com/gs/resourceProxy?an=5547795&publisher=FZ0661 

Drew, R. (2016). Technological Determinism. In G. Burns (Ed.), A Companion to Popular Culture (1st ed., pp. 165–183). Wiley. https://doi.org/10.1002/9781118883341.ch10 

Freedman, L. (2015). Strategy: A history. Oxford University Press. https://www.google.com/books?hl=en&lr=&id=BeQRDAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=strategy:+a+history+freedman&ots=niYv-8JJ1W&sig=EcXmNL-1671lX-fgf1XWqsTnvOk 

Global Fire Power. (2026). Military Strength Ranking. https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php 

Tabatabai, A. M. (2020). No conquest, no defeat: Iran’s national security strategy. Oxford University Press. https://www.google.com/books?hl=en&lr=&id=SRUOEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=no+conquest,+no+defeat:+iran%27s+national+security+strategy+&ots=hD5PjcsVJK&sig=DDhiHo2d66Tdrnenqnxfd0P1sKA 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts